Adang Eksekusi Tol, Warga Ancam Ledakkan Diri

Nurul Hidayat    •    Rabu, 31 Aug 2016 10:28 WIB
tol
Adang Eksekusi Tol, Warga Ancam Ledakkan Diri
Warga Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang, Jatim, blokir jalan tolak eksekusi lahan Tol Jombang-Mojokerto. (Metrotvnews.com/Nurul Hidayat)

Metrotvnews.com, Jombang: Sejumlah warga Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur memblokir jalan dengan meyebar kotoran manusia untuk menghalau eksekusi lahan tol Jombang-Mojokerto Seksi II. Mereka juga mengancam akan meledakan diri dengan tabung gas elpiji.

"Kami sekeluarga siap mati jika penggusuran tersebut tetap dilaksanakan," ujar Dentok salah satu warga Desa Watudakon, Rabu (31/8/2016).

Alasan warga menolak esekusi lahan karena harga yang ditentukan terlalu murah. Yakni Rp170 ribu hingga Rp300 ribu per meter persegi.

"Selain itu, proses pengukuran dan pengadaan tanah yang dilakukan oleh Badan Pertahanan Nasional (BPN) aparatur desa dinilai kurang transparan," imbuhnya.

Masih menurut Dentok, surat penggusuran lahan juga baru diterima warga pada Senin 29 Agustus. Sehingga, warga tidak sempat mengosongkan rumahnya.

Esekusi pengosongan lahan tol Jombang-Mojokerto Seksi II meliputi delapan desa di lima kecamatan. Yakni, Kecamatan Kesamben, meliputi Desa Kedungmlati (46 bidang), Desa Watudakon (39 bidang), Desa Blimbing (21 bidang), dan Desa Carangrejo (3 bidang).

Kecamatan Sumobito, meliputi Desa Kendalsari (54 bidang). Lalu, lima bidang tanah di Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang. Sisanya, satu bidang tanah di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan; dan tiga bidang di Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo.

Mojokerto-Kertosono

Proyek yang di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat disebut Tol Mojokerto-Kertosono itu membentang sepanjang 40,5 km. Tol ini dibangun oleh PT Marga Harjaya Infrastruktur, selaku pemegang hak konsesi.

Anak perusahaan PT Astratel Nusantara (bagian dari Astra International Tbk) itu, membagi tol tersebut menjadi empat seksi. Yakni, seksi 1 (Bandar Kedungmulyo-Tembelang) sepanjang 14,7 kilometer, beroperasi sejak Oktober 2014.

Seksi 2, sepanjang 19,9 km dari Desa Tamping Mojo, Tembelang, Jombang sampai Desa Pageruyung, Gedeg, Mojokerto. Sementara, seksi 3 dan 4 masing-masing sepanjang 5 km dan 0,9 km. Hingga kini, masalah pembebasan lahan menjadi kendala di ruas-ruas tersebut.


(SAN)