Daftar Calon Haji Asal Jatim yang Ditahan Filipina

Amaluddin    •    Kamis, 25 Aug 2016 18:30 WIB
haji 2016
Daftar Calon Haji Asal Jatim yang Ditahan Filipina
Sebanyak 177 WNI calon haji ditangkap karena gunakan paspor FIlipina (Foto: Manila Bulletin)

Metrotvnews.com, Pasuruan: Calon haji asal Jawa Timur yang ditahan otoritas Filipina berjumlah 14 orang. Sebelumnya disebutkan hanya ada 10 calon haji.

"Bertambah 4 calon haji menjadi 14 orang," kata Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat menemui sejumlah keluarga korban di Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Kamis (25/8/2016).

Sebanyak 14 calon haji itu merupakan bagian dari 177 calon haji yang ditahan pemerintah Filipina. Mereka diduga menggunakan paspor asli yang disalahgunakan untuk bisa berangkat memanfaatkan kuota haji asal Filipina.

Dari 14 calon haji, 12 di antaranya warga Kabupaten Pasuruan dan dua orang lain dari Kabupaten Sidoarjo. Berikut identitas 12 calon haji asal Kabupaten Pasuruan:

1. Hj. Nurul Mahmudah (Klampok Sumbergedang).
2. Sumiati Bin Katiran Ali (Klatakan Dayurejo Prigen).
3. Joni Bin Farukatari (Bulukandang Prigen).
4. Maslikhah bin Mustakim Rakhmad (Bulukandang Prigen).
5. Satruki Bin Sakiman Sulaiman (Bunut Rembang).
6. Urifah Bin Wakidin Rasito (Bunut Rembang).
7. Sumiati Bin Juari Samawi (Terongdowo Sukoreno Prigen).
8. Yono Noto Sumo (Wonosunyo Gempol).
9. Kasudatin Delan Karjani (Wonosunyo Gempol).
10. Nuriyah bin Wiji Seno (Tejowangi Purwosari).
11. Satruki (Desa Pejangkungan).
12. Uripah (Desa Pejangkungan, Rembang).

"Untuk identitas calon haji asal Sidoarjo yang ditahan di sana masih kami koordinasikan dengan Pemkab Sidoarjo," ujar Gus Ipul.


Saifullah Yusuf saat menemui keluarga korban di Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan,
Kamis (25/8/2016). Foto: Metrotvnews.com/Amal


Pada Jumat 19 Agustus 2016 keimigrasian Filipina menahan 177 warga Indonesia yang hendak berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Petugas imigrasi mencurigai paspor yang mereka gunakan palsu. Sebab, para pemilik paspor tak bisa berbahasa Tagalog (bahasa Filipina).

Kemudian, petugas berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Manila, Filipina. Proses interogasi pada ratusan warga Indonesia itu pun masih berlangsung sampai saat ini. 

"Saat ini kami terus berkoordinasi dengan Kemenlu," kata Saifullah.


(UWA)