Anggota DPRD Sidoarjo Gagal Jenguk Ketua Pansus di Tahanan

Syaikhul Hadi    •    Selasa, 04 Jul 2017 15:17 WIB
kasus korupsi
Anggota DPRD Sidoarjo Gagal Jenguk Ketua Pansus di Tahanan
Sejumlah anggota DPRD Sidoarjo urung membesuk Khoirul Huda \yang saat ini menjadi tahanan Kejari Sidoarjo di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Sidoarjo, Jawa Timur -- MTVN/Syaikhul Hadi

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Sejumlah anggota DPRD Sidoarjo urung membesuk Khoirul Huda, Ketua Pansus Perubahan status PD Aneka Usaha menjadi PT, yang saat ini menjadi tahanan Kejari Sidoarjo di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Sidoarjo. Mereka balik badan lantaran tak membawa izin menjenguk dari Kejari Sidoarjo.

"Mestinya mereka membawa surat izin dan diantar pihak kejaksaan. Barulah, nanti kita panggil yang bersangkutan untuk menemui pembesuk," kata Kasubsie Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Sidoarjo Rudi Kristiawan, Selasa 4 Juli 2017.

Tak hanya itu, niatan sejumlah anggota DPRD membesuk rekan sejawatnya itu juga menyalahi aturan hari kunjungan. Mereka kemudian kembali ke gedung dewan.

"Bukannya kami menolak anggota dewan untuk besuk pak Huda. Tapi, untuk tahanan hari besuknya hanya Senin dan Rabu saja. Kalau hari ini, khusus untuk membesuk narapidana," terang Rudi.

(Baca: Kader Golkar Minta Posisi Anggota Dewan Terjerat Hukum Diganti)

Menurut Rudi, saat ini Khoirul masih ditempatkan di ruangan masa pengenalan lingkungan (mapeling) khusus untuk tahanan Polisi. Kondisinya juga sehat.

Adapun beberapa anggota yang membesuk Khoirul Huda, di antaranya Khulaim Djunaidi (Komisi B), Dhamrani (Komisi B), Kusman (Komisi A), Agil Effendy (Komisi B), Hadi Subianto (Komisi B), Mulyono (Komisi B), Sulistyowati (Komisi A), dan Soegianto (Komisi B).

Khoirul Huda ditahan Kejari Sidoarjo sejak 8 Juni 2017. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi di PD Aneka Usaha.

(Baca: Anggota Dewan Ditahan terkait Dugaan Korupsi di PDAU Sidoarjo)

Penyidik mengantongi dua alat bukti untuk menahan Khoirul. Adapun salah satu alat bukti yaitu kuitansi senilai Rp75 juta yang diberikan kas PD Aneka Usaha kepada seorang anggota dewan. Tercatat nama Khoirul di kuitansi tersebut.

Khoirul mengaku menerima dana senilai Rp75 juta dari kas PD Aneka Usaha. Namun, uang itu bukan untuk dirinya. Uang tersebut untuk kepentingan panitia khusus DPRD Sidoarjo saat berkunjung ke Pekanbaru, Riau.

Kasus PD Aneka Usaha bermula saat Kejari mencurigai kebocoran pengelolaan keuangan yang mencapai miliaran rupiah. Diduga, kebocoran pengelolaan terjadi mulai 2010 hingga 2016.


(NIN)