Tenaga Listrik Berbahan Sampah Jadi Inovasi Andalan Surabaya

Amaluddin    •    Jumat, 30 Nov 2018 19:26 WIB
lingkungan
Tenaga Listrik Berbahan Sampah Jadi Inovasi Andalan Surabaya
Ilustrasi sampah, Medcom.id

Surabaya: Kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi finalis dalam ajang Guangzhoi International Award 2018. Surabaya ikut dari segi pengelolaan lingkungan dalam kategori Inovasi Perkotaan pada ajang bergengsi tersebut.

"Dalam pengelolaan lingkungan ini, Surabaya fokus pada 3R (Reduce, Reuse, Recycle)," kata Kabag Humas Pemkot Surabaya, M Fikser, ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 30 November 2018.

Dalam pengelolaan lingkungan, lanjut Fikser, Surabaya memanfaatkan sampah dengan mengelola menjadi tenaga listrik. Inovasi itu dilakukan untuk menekan volume sampah organik yang mencapai 60 persen dari 1.500 ton sampah kota per hari, yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo Surabaya.

Tak hanya itu, Surabaya juga memanfaatkan sampah dengan menggunakannya sebagai ongkos naik Bus Suroboyo. Bagi masyarakat yang ingin naik bus itu, masyarakat harus membayar dengan sampah. 

"Kemudian sampah-sampah itu dikelola menjadi tenaga listrik 3 watt. Nah, tenaga listrik di taman-taman Surabaya itu hasilnya dari sampah," katanya.

Keberhasilan itu, lanjut Fikser, panitia Guangzhoi menilai Surabaya termasuk kota-kota terindah di dunia dalam kategori inovasi perkotaan. Selain itu, keikutsertaan masyarakat dalam mengelola sampah, juga menjadi nilai untuk ikut ajang international itu.

"Panitia tidak hanya menilai inovasinya saja, juga menilai adanya keterlibatan masyarakat dalam program pengelolaan sampah di Surabaya," ujarnya.

Kota Surabaya masuk nominasi Inovasi Perkotaan dalam Guangzhou International Award 2018. Ajang bergengsi itu mengangkat tema menjaga lingkungan hidup yang melibatkan partisipasi masyarakat untuk mengelola sampah. Surabaya mewakili Asia Tenggara dan akan bersaing dengan 193 kota di dunia dari 66 negara.

"Tidak main-main untuk bisa ikut ajang tersebut, karena tidak semua kota bisa mengelola sampah. Surabaya bisa dikatakan membawa nama Indonesia, karena belum ada kota-kota di Indonesia yang ikut dalam ajang international itu," ujarnya.


(RRN)