Menteri Susi dan Ribuan Santri Tebuireng Ukir Rekor MURI

Nurul Hidayat    •    Jumat, 18 Nov 2016 11:18 WIB
rekor muri
Menteri Susi dan Ribuan Santri Tebuireng Ukir Rekor MURI
Penyerahan Piagam Rekor Muri Kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Foto: Metrotvnews.com/Nurul

Metrotvnews.com, Jombang: Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  bersama ribuan santri di Ponpes Tebuireng Jombang Jawa Timur mengukir rekor makan ikan sehat bersama terbanyak, Jumat 18 November 2016.

Rekor dipecahkan di Terminal Kawasan Makam Gus Dur, Tebuireng, Jombang. Dari data yang dihimpun perwakilan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) tercatat sebanyak 1,6 ton ikan atau setara dengan 8.800 ikan dimakan 7.445 santri dari 11 pesantren di sekitar Ponpes Tebuireng.

"Ini melengkapi beberapa rekor yang juga telah diukir oleh Kementerian Kelautan dan Rerikanan," ujar salah satu perwakilan dari MURI, dalam sambutannya.

Sebelumnya, Ponpes Tebuireng hanya mengajukan 6.000 santri yang hendak mengikuti kegiatan ini, namun yang hadir dan terverifikasi jauh lebih banyak.

"Semoga pemecahan rekor ini memotivasi santri untuk lebih baik," ujarnya.



Selain rekor tersebut, Kementrian Kelautan dan Perikanan juga memegang rekor MURI, di antaranya membakar ikan lobtser terbanyak, masakan ikan dengan bumbu nusantara terbanyak, cabut duri ikan bandeng terbanyak, serta pemeliharaan ikan hias terbanyak.

Sanjung Sistem Ekonomi Pesantren

Dalam sambutannya, Susi Pudjiastuti terkesan dengan sistem ekonomi dari dunia pesantren yang mencerminkan kemandirian.

"Saya kagum dan salut dengan sistem kemandirian pesantren. Sumber daya yang ada diolah oleh santri sendiri," kata dia.

Susi mengatakan keberadaan pesantren menghapus stigma bahwa ekonomi pesantren dan kehidupan pesantren tertinggal.

"Selama di Ponpes Tebuireng saya melihat kehidupan santri justru memperlihatkan cikal bakal kehidupan yang lebih baik," ujarnya.

Menurutnya, cara hidup bertoleransi di pesantren menunjukkan kebesaran Islam. "Anggapan Islam itu radikal terhapus dengan melihat kehidupan pesantren di sini. Islam sangat toleran," ujarnya.


(UWA)