Polisi Diminta Tuntaskan PR 'Bela Buruh' di Malang

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 02 May 2018 12:31 WIB
may dayhari buruh
Polisi Diminta Tuntaskan PR 'Bela Buruh' di Malang
Aksi buruh dalam peringatan May Day di Kota Malang, Selasa 1 April 2018, Medcom.id - Daviq

Malang: Buruh di Kota Malang, Jawa Timur, menuntut polisi segera menyelesaikan permasalahan yang merugikan mereka. Hal itu disampaikan saat aksi demo dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), Selasa 1 Mei 2018.

Ketua Umum Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) Lutfi Hafidz menilai polisi tak menuntaskan masalah yang muncul di Rumah Sakit (RS) Manu Husada Kota Malang. Masalah itu berupa konflik antarapimpinan yayasan yang menaungi rumah sakit itu. Buruh menjadi korban.

"Proses penyelesaian kasus Manu Husada sampai hari ini tidak ada SP2P (Surat Pemberitahuan Perkembangan Perkara). Bagaimana pengembangan kasus ini?" tanya Lutfi di sela-sela aksi di Balai Kota Malang.

Buntut dari masalah itu ada 38 buruh yang harus dirumahkan. Sejak masalah bergulir pada 2015 lalu, rumah sakit yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, Kota Malang itu menyatakan diri menghentikan operasional. Rumah sakit tak lagi menerima pasien.

Para buruh terdiri dari petugas keamanan, perawat, bidang, tenaga administrasi, serta apoteker. Sebelumnya mereka dijanjikan secara lisan oleh pimpinan rumah sakit bahwa akan tetap diberi gaji selama dirumahkan. Namun kenyataannya, mereka tidak pernah menerima gaji.

"Sebenarnya permasalahan ini adalah konflik internal perusahaan. Tapi ini kaitannya dengan masa depan kehidupan dan ekonomi buruh. Otomatis ketika perusahaan tutup dan tidak ada penyelesaian maka kehidupan buruh hancur," keluhnya.

Selain itu, masalah lain juga terjadi di sebuah perusahaan Istana Boneka. Perusahaan itu bergerak di bidang penjualan boneka.

"Masalahnya saat buruh yang bekerja di sana mendirikan organisasi, pengusaha langsung menyerang mereka. Dampaknya buruh yang sebelumnya berjumlah ratusan jadi tinggal beberapa," lanjutnya.

Di peringatan May Day, Polres Malang Kota menerjunkan 700 personel untuk mengamankan aksi. Aksi berlangsung di tiga titik yaitu Stadion Gajayana, Alun-Alun Kota Malang, dan Balai Kota Malang.

"Hingga kini, semua berjalan kondusif dan lancar. Tidak ada kericuhan. Para buruh dipersilakan menggelar aksi demonstrasi dengan damai," jelasnya.

Agus Muin, utusan Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB), mengatakan buruh mengajukan tiga tuntutan. Yaitu upah layak, pembatasan jumlah tenaga kerja asing, dan penghapusan pekerja alih daya atau outsourcing.

"Hal itu telah diatur dan dilindungi di UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003. Namun hingga saat ini hak yang seharusnya didapatkan buruh tidak diberikan oleh pengusahanya," pungkasnya.



(RRN)