Produsen Lokal Baru Penuhi 40 Persen Kebutuhan Alkes di Indonesia

Whisnu Mardiansyah    •    Kamis, 20 Oct 2016 15:47 WIB
fasilitas kesehatan
Produsen Lokal Baru Penuhi 40 Persen Kebutuhan Alkes di Indonesia
Ilustrasi. Dokter gigi memeriksa kesehatan gigi anak di Semarang. Foto: Metrotvnews.com/Dhana Kencana

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perindustrian menggelar pameran produk-produk alat kesehatan buatan dalam negeri di Pameran Produk Indonesia (PPI) 2016.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat menjelaskan pada 2014, pangsa pasar atau total kebutuhan alat kesehatan di Indonesia sebesar Rp30 triliun. Namun, produsen alkes lokal masih belum mendapatkan porsi yang optimal untuk pemenuhan produk industri dalam negeri.

Dari data Kementerian Kesehatan, kebutuhan alkes oleh pemerintah mencapai Rp15,4 triliun. Namun, dari jumlah itu, baru 40,38 persen yang bisa dipenuhi oleh industri produsen dalam negeri.

“Sektor tersebut termasuk dalam kelompok industri prioritas sesuai Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035,” kata Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat pada Pembukaan PPI 2016 di Grand City Convention, Surabaya, Kamis (20/10/2016).

Padahal kata Syarif, industri alkes lokal bisa berbicara banyak dalam industri alkes global. Dilihat dari data ekspor alkes lokal yang membukukan nilai ekspor sebesar Rp 4 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa potensi industri alat kesehatan dalam negeri masih cukup besar untuk terus dikembangkan sehingga tidak ketergantungan dengan produk impor.

“Jumlah industri alkes saat ini sebanyak 234 perusahaan dan tingkat pertumbuhan rata-ratanya mencapai 10 persen per tahun,” jelasnya.

Pemerintah optimistis industri alat kesehatan dalam negeri dapat segera memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan secara nasional. Di sisi lain, produk alkes lokal pun mampu bersaing kompetitif. Secara harga bisa mencapai 20-30 persen lebih murah dibandingkan produk impor.

“Sedangkan dari sisi kemampuan, industri kita telah mampu memproduksi, antara lain furnitur rumah sakit, stetoskop, elektromedik, alat medis sekali pakai, kostum medis, serta alat rapid test,” jelas Syarif.

Produsen alkes lokal pun dituntut untuk meningkatkan kualitas, karena selain penerapan SNI juga harus mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan dengan persyaratan tertentu sesuai ketentuan medis. Hal ini pula untuk menjamin keamanan bagi konsumen.

Kementerian Perindustrian bertekad mendorong pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri. Terlebih dengan memperkuat Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.


(MEL)