Kisah Penyintas Gempa Situbondo

Rahmatullah    •    Selasa, 16 Oct 2018 19:42 WIB
Gempa Situbondo
Kisah Penyintas Gempa Situbondo
Korban bencana saat menceritakan rumahnya roboh. Medcom.id / Rahmatullah

Sumenep: Nasiyah, 60, terlihat berusaha kuat menyembunyikan kesedihannya saat ditemui di RSUD dr Moh Anwar Sumenep. Tapi, kelopak matanya yang sembab berkata lain.

Nasiyah jadi korban patah tulang akibat gempa di Pulau Sapudi. Lebih menyakitkan lagi, nyawa suami dan cucunya menjadi korban.

"Saya tidak bisa banyak bercerita," tutur Nasiyah saat ditemui di RSUD dr Moh Anwar Sumenep, Selasa, 16 Oktober 2018.

Ia sedang tidur lelap saat bumi berguncang hebat pada Kamis dini hari, 11 Oktober 2018. Getaran hebat itu membuat Nasiyah panik.

Dia terbayang keselamatan anggota keluarga selain berusaha menyelamatkan diri. Namun, bagian tubuhnya sudah tertimpa reruntuhan sebelum beranjak dari tempat tidur.

Rahmani, 40, warga yang juga berasal dari Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, tidak bisa berdiri dan masih menjalani perawatan pascaoperasi. Nasiyah patah tulang lengan kiri, sedangkan Rahmani patah tulang di bagian kaki kiri.

Rahmani mengaku panik ketika rumahnya berguncang. Ia berusaha keluar kamar setelah dibangunkan sang anak. Tapi, rumahnya roboh dan menimpanya sebelum ia melangkahkan kaki.

Dia merasakan ngilu di bagian tulangnya yang patah. Dia mengaku tidak bisa bergerak sedikit pun.

"Sakit ketika diangkat," akunya.

Direktur RSUD dr Moh Anwar Sumenep Fitril Akbar mengungkapkan kondisi kesehatan kedua korban sudah membaik. Dalam waktu dekat keduanya sudah bisa dipulangkan.

Meski demikian, ia mengatakan harus ada perawatan lanjutan yang mesti dilakukan, maksimal selama 12 minggu ke depan.

"Harus ke sini lagi, setidaknya dua minggu sekali," jelas Fitril.


(SUR)