Pemkab akan Dampingi Anak-anak Terduga Teroris

Syaikhul Hadi    •    Rabu, 23 May 2018 09:31 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Pemkab akan Dampingi Anak-anak Terduga Teroris
Kendaraan Kapolda Jatim memasuki lokasi ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Minggu malam 13 Mei 2018, Ant - Umarul Faruq

Sidoarjo: Anak-anak yang terlibat dalam aksi terorisme di Sidoarjo, Jawa Timur, adalah korban doktrin dari orangtua mereka. Lantaran itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo akan mendampingi mereka secara khusus.

Pada Minggu 13 Mei 2018, ledakan terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan terjadi di unit yang ditempati Anton Ferdianto bersama istri dan empat anaknya.

Baca: 3 Orang Tewas Akibat Ledakan di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo

Ledakan itu menewaskan istri, Sari Puspatarini dan satu anak mereka, Hilya Aulia Rachman. Sedangkan Anton masih dalam kondisi sadar. Namun polisi terpaksa melumpuhkan Anton dengan menembakkan peluru ke tubuhnya hingga tewas. Alasannya, Anton dianggap berbahaya karena memegang alat pemicu ledakan.

Sedangkan tiga anak lain luka. Mereka selamat dari ledakan. Mereka yaitu AR, FP, dan GHA. Setelah pemeriksaan, polisi menyatakan Anton terlibat dalam anggota teroris.

"Untuk anak-anak yang selamat itu, mereka butuh penanganan khusus. Terutama memulihkan psikologisnya," kata Wakil Bupati Sidoarjo Nur Achmad Syaifuddin ditemui di rumah dinasnya, Rabu, 23 Mei 2018.

Mereka, lanjut Nur Achmad, adalah korban salah asuh. Pemerintah perlu mengarahkan dan membimbing anak-anak untuk mencintai Tanah Air, juga NKRI.

"Jika memang benar anak ini warga asli Sidoarjo. Tentunya kami siap untuk membantu memulihkan. Sehingga anak tersebut mendapat asuhan yang bagus, pendidikan yang bagus, dan menjadikan anak tersebut lebih mencintai tanah air," tegasnya.

Selain korban dari terduga teroris, ia juga mengatakan ada warga yang terganggu dengan aksi tersebut. Misalnya, warga di sekitar lokasi peledakan bom dan penggerebekan.

Nur Achman mengatakan bekerja sama dengan Puskesmas, rumah sakit, dan lembaga swadaya untuk mendampingi korban. 

"Mudah-mudahan ini berhasil. Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang mengalami traumatik. Ini juga sudah kita pikirkan," jelasnya.

Menurut Nur Achman, aksi teror merupakan model baru. Orangtua seharusnya bisa membimbing, mengajak kepada sesuatu hal yang baik, justru menjadikan anak sebagai umpan untuk sesuatu hal yang konyol (bunuh diri).

"Hal yang begini ini tidak dibenarkan. Apalagi dalam agama juga tidak dibenarkan. Ini jauh dari kemuliaan," tegasnya.

Pihaknya berpesan, agar para orang tua lebih selektif dalam menyerap informasi, hingga ideologi tertentu.  Sehingga hal itu tidak berdampak pada anak-anak kita. Jadikanlah anak-anak kita sebagai anak yang teladan, anak yang patut dibanggakan dalam berbangsa dan bertanah air.

"Orangtua jangan ragu-ragu untuk memeriksa gadget anaknya. Karena gadget merupakan sumber informasi cepat. Jangan sampai mereka salah membaca informasi, apalagi sampai terbawa kepada hal-hal yang mengarah paham radikalisme," tandasnya.

Lihat video:



(RRN)