Rencana Bangun Instalasi Bakar Sampah di Sidoarjo Diminta Dikaji Ulang

Syaikhul Hadi    •    Kamis, 20 Jul 2017 10:38 WIB
sampah
Rencana Bangun Instalasi Bakar Sampah di Sidoarjo Diminta Dikaji Ulang
Ilustrasi lingkungan, MTVN - M Rizal

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menyiapkan lahan untuk membangun instalasi pengelolaan pembakaran sampah. Namun pemkab masih mengkaji rencana itu karena Mahkamah Agung meminta pemerintah tak mengelola sampah dengan cara membakar.

Awal tahun 2017, MA mengabulkan permohonan untuk membatalkan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016 tentang percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah. Alasannya, percepatan pembangunan pembangkit listrik itu menggunakan metode pembakaran sampah. Metode itu dianggap dapat menimbulkan masalah baru.

Meski demikian, Pemkab Sidoarjo berencana membangun instalasi pengelolaan sampah dengan metode tersebut. Pemkab menyiapkan lahan di kawasan Jabon.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengatakan metode itu menjadi cara paling tepat untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

"Saya lebih setuju  membangun Pengelolaan Sampah yang bisa diubah menjadi pembangkit listrik," ungkap Bupati Saiful Ilah di Sidoarjo, Kamis 19 Juli 2017.

Bupati mengatakan banyak keuntungan didapat dari metode pembakaran ketimbang mengelola sampah dengan cara menimbun atau sanitary landfill. Ia juga telah berkonsultasi dengan China Everbright Internasional Limited (CEIL) yang mengkaji tempat pembuangan sampah di Jabon.

"Sudah dua kali dilakukan kajian, kemudian dilanjutkan penandatanganan (kerjasama). Mudah-mudahan bisa secepatnya terealisasi," harapnya.

Sementara itu Komunitas Nol Sampah Surabaya tak menyetujui rencana tersebut. ketua komunitas, Wawan Some, meminta Pemkab Sidoarjo mengkaji dan mempertimbangkan ulang rencana itu.

Wawan menyarankan Pemkab Sidoarjo memanfaatkan metode sanitary landfill untuk menghasilkan tenaga listrik atau infenerator. Sebab, teknologi infenerator sampah akan menghasilkan bioksin.

"Ada bahan dari sampah itu aman jika suhunya diatas 600 derajat. Namun ada juga bahan dari sampah yang jika dibakar akan menghasilkan zat berbahaya. Seperti menyebabkan kanker, atau keracunan," ungkap Wawan.

Selain itu, biaya pembakaran sampah juga dinilai terlalu mahal. Ia menaksir dana investasinya mencapai triliunan, plus biaya operasional.

Untuk pembakaran yang ideal, biayanya minimal Rp 300 ribuan per ton sampah. Berbeda jika menggunakan sanitary landfill yang hanya membutuhkan biaya sekitar Rp100 hingga 150 ribuan per ton.

"Sanitary landfill saja Sidoarjo belum mampu melakukan dengan baik, apalagi dibakar," terangnya.


(RRN)