Pencarian 7 Santri Terganggu Air Keruh

   •    Sabtu, 08 Oct 2016 10:50 WIB
tenggelam
Pencarian 7 Santri Terganggu Air Keruh
Sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan Widang, Tuban, Jawa Timur, berada di tepian sungai Bengawan Solo di dekat lokasi tenggelamnya perahu tambang berpenumpang 25 santri, Jumat (7/10/2016). Foto: Antara/Aguk Sudarmojo

Metrotvnews.com, Tuban: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur, menyatakan pencarian tujuh santri Langitan, Widang, yang belum ditemukan dalam musibah perahu tenggelam di Bengawan Solo sehari lalu terganggu oleh air yang keruh.

"Kondisi keruhnya air Bengawan Solo menyulitkan pencarian dengan cara menyelam, selain juga arusnya deras,"  kata Kepala BPBD Tuban Joko Ludiyono di lokasi kejadian di kawasan Ponpes Langitan Widang, Tuban, seperti dilansir Antara, Sabtu (8/10/2016).

Dengan demikian, katanya, pencarian tujuh santri korban perahu tenggelam di Bengawan Solo dilakukan hanya dengan menyisir menggunakan perahu karet.

"Ada 10 perahu karet yang dikerahkan untuk melakukan penyisiran di Bengawan Solo dengan radius tertentu,"  kata dia.

Tim SAR yang terlibat dalam pencarian antara lain, dari Basarnas, Polisi Air Polda Jatim, Polres Tuban, BPBD Tuban, Bojonegoro, Lamongan dan Gresik.

Lebih lanjut ia menjelaskan lokasi area pencarian dilakukan mulai dari lokasi kejadian di kawasan Ponpes Langitan, Widang, Tuban, sampai lokasi Bendung Gerak Babat, Lamongan, yang jaraknya sekitar 6 kilometer ke arah hilirnya.

Berbagai persiapan sudah kita lakukan kalau sewaktu-waktu korban ditemukan akan dilakukan identifikasi korban oleh tim identifikasi DVI dari Polda Jawa Timur," paparnya.

Dengan demikian, lanjut dia, kalau memang sudah jelas diketahui identitas korban maka akan diserahkan kepada pihak Ponpes Langitan Tuban untuk diteruskan kepada keluarganya.

"Keluarga tujuh santri yang belum ditemukan sudah dihubungi pihak ponpes," ujarnya.

Seorang petugas Tim DVI Polda Jawa Timur Agus Pribadi  menyebutkan sudah ada satu keluarga korban yang langsung memberikan gambaran ciri-ciri keluarganya yang masuk dalam daftar korban. Selain itu, lanjut dia, ciri-ciri fisik santri yang menjadi korban juga sudah disampaikan pihak Ponpes.

"Tanda-tanda fisik yang paling mudah untuk mengetahui identitas seseorang dari ciri-ciri yang diberikan keluarganya salah satunya melalui ciri-ciri khusus seperti gigi. Kalau sulit jalan terakhir melalui tes DNA," ujarnya.

Dalam musibah perahu tambang dengan penumpang 25 santri yang tenggelam di Bengawan Solo di tambangan Babat, Lamongan, di antaranya 18 santri selamat sedangkan tujuh santri belum ditemukan.

Enam dari tujuh santri yang belum ditemukan yaitu Abdullah Umar, 15, asal Bedilan, Gresik; M. Afiq Fadlil, 19, asal Manyar Gresik; Moh. Arif Mabruri, 18, asal Sumberrejo Bojonegoro.

Selain itu Muhsin, 16, asal Tambaksari Surabaya; Rizki Nur Habib, 15, asal Kecamatan Percut Seitian, Deli Serdang Sumatera; dan Lujaini Dani, 13, asal Manyar, Gresik.



(UWA)