Penyebab Banyak Kasus Difteri Terjadi di Jatim

Amaluddin    •    Kamis, 07 Dec 2017 20:22 WIB
klb difteri
Penyebab Banyak Kasus Difteri Terjadi di Jatim
Ilustrasi. ANTARA FOTO/ Feny Selly/ss/nz/14

Surabaya: Kasus difteri di Jawa Timur sebanyak 318 orang dan 12 anak meninggal sepanjang 2017. Kepala Dinas (Dinkes) Jatim Kohar Hari Santoso menyebut kasus difteri terjadi lantaran masyarakat enggan melakukan vaksinasi.

"Kesadaran masyarakat terkait pentingnya imunisasi masih minim. Padahal imunisasi itu guna menjaga daya tahan tubuh dan kekebalan terhadap penyakit ini," kata Kohar, dikonfirmasi, Kamis, 7 Desember 2017.

Difteri adalah penyakit yang ditandai dengan panas 38 celsius, disertai adanya psedoumembrane atau selaput tipis keabu-abuan pada tenggorokan yang tak mudah lepas dan mudah berdarah. Penyakit ini disebabkan bakterium difteri dan bisa menyebabkan kematian jika tidak mendapatkan penanganan segera.

Karena itu, kata Kohar, anak usia 1- 2 tahun, kelas 1, 2 dan 5 SD harus mendapat vaksinasi. Anak usia 1 tahun (tiga dosis/kali) dan usia 1-2 tahun (satu dosis), kemudian kelas 1 dan 2 SD serta kelas 5 SD masing-masing satu dosis. "Difteri ini rentan terjadi utamanya pada anak usia dini di bawah usia 15 tahun, utamanya yang belum mendapatkan vaksin difteri," katanya.

Kohar pun mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatinkan pentingnya imunisasi. Ia berharap anak-anak usia di bawah 15 tahun segera melakukan imunisasi Difteri, jika ada keluhan deman dan nyeri telan ke fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) terdekat. "Tidak dipungut biaya alias gratis. Cukup membawa anaknya ke Posyandu atau puskesmas untuk mendapat imunisasi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo, Agus Harianto, menyatakan, banyak warga menganggap vaksinasi haram. "Jatim tertinggi karena banyak yang tidak mau divaksinasi. Bahkan ada yang mengharamkan vaksinasi, padahal itu tidak betul," katanya.

Kata Agus, ada dua hal penting gejala penyakit difteri, yaitu tempat infeksi dan racun. Tempat infeksi paling sering di tenggorokan dan kulit. Yang paling berbahaya di daerah tenggorokan karena bisa menyebabkan penyumbatan saluran pernapasan. 

Penyumbatan saluran bisa meracuni jantung dan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan isolasi pada pasien. 

"Kami imbau semua anak-anak yang masuk sekolah mendapat vaksinasi agar penyakit difteri tidak terjangkit," kata dia.


(ALB)