Sekolah Swasta Menanti Siswa

Kusbandono    •    Sabtu, 07 Jul 2018 13:01 WIB
pendidikan
Sekolah Swasta Menanti Siswa
Calon siswa mengikuti pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) daring (online) Antara/Maulana Surya

Jember: Calon siswa SMP Negeri beralih ke sekolah swasta jika tidak diterima di sekolah negeri. Banyak sekolah swasta menunggu pengumuman dari sekolah negeri untuk memenuhi target penerimaan peserta didiknya.

"Meskipun sudah buka pendaftaran dulu, namun yang daftar sedikit. Kami harus menunggu hasil pengumuman dari sekolah negeri, baru akan kita tutup setelah penuh kelasnya," kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP swasta Saiful Bahri, Sabtu, 7 Juli 2018.

SMP swasta tidak menerapkan sistem zonasi yang dilakukan di sekolah negeri. Sehingga, siswa yang jauh dari sekolah bisa mendaftar dimana pun.

"Tidak ada dampaknya sementara ini," Ujar Saiful.

Kebanyakan sekolah swasta punya mekanisme pendaftaran sendiri karena peminat yang terbatas. Mereka selalu membuka pendaftaran lebih awal agar calon siswa bisa lebih banyak.

Meskipun demikian, mereka harus tetap menunggu kelulusan pengumuman sekolah negeri. Kecuali sekolah swasta yang menjadi favorit warga.

Sekolah swasta yang memiliki produk unggulan sudah memenuhi kuota. Bahkan, yang mendaftar di sekolah tersebut juga datang dari luar Jember.

"Mereka tidak harus menunggu hasil pengumuman di sekolah negeri, karena sekolah swasta tersebut sudah mempunyai nama dan produk keunggulan yang bisa jadi daya tarik," kata Saiful.

Jember memiliki 232 SMP swasta yang tersebar di seluruh kecamatan. Tidak semua sekolah itu memiliki produk unggulan.

Sehingga, tetap masih berharap limpahan siswa yang tidak lulus dari sekolah negeri. "Sekolah yang tidak punya basis tetap sepi," ujar Saiful.

Bagi sekolah berbasis pesantren, mereka memiliki peminat yang jelas dari berbagai daerah. Atau sekolah Kristen yang juga memiliki basis peserta tersendiri.

"Hal tersebut berbeda dengan sekolah swasta biasa." Tambah Saiful.

Orang tua calon peserta didik kebanyakan belum bisa memutuskan untuk mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah swasta. Dia mengakui belum ada pemerataan sekolah swasta dan negeri.

Kendala tersebut disebabkan sarana dan prasarana, jumlah guru yang mengajar, serta hasil nilai ujian. Ditambah lagi dampak pendidikan gratis yang dibiayai pemerintah di sekolah negeri.

"Kegiatan operasional swasta tidak cukup kalau gratis, beda dengan negeri yang gajinya didukung pemerintah," pungkas Saiful.


(SUR)