Mahasiswa Universitas Brawijaya Ubah Limbah Organik Jadi Listrik

Daviq Umar Al Faruq    •    Senin, 02 Jul 2018 14:20 WIB
pembangkit listrik
Mahasiswa Universitas  Brawijaya Ubah Limbah Organik Jadi Listrik
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) memanfaatkan limbah organik menjadi penghasil listrik. (Foto: Humas FTP UB)

Malang: Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi baru untuk menjawab solusi kebutuhan energi saat ini. Yakni dengan memanfaatkan limbah organik menjadi penghasil listrik.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Elviliana (2016), Charisma Virginia (2015) dan Oddy South Lolo Toding (2014). Mereka adalah mahasiswa jurusan Keteknikan Pertanian (TEP) bimbingan dosen Sri Suhartini.

Ketua tim penelitian, Elviliana mengatakan salah satu masalah yang dihadapi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, yakni kebutuhan energi yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Sebab, menurut data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 2016, kebutuhan energi listrik Indonesia selama kurun waktu 2014-2050 diprediksi tumbuh dengan rata-rata 5,3 persen per tahun. 

"Sementara itu, berkurangnya cadangan energi fosil dan sulitnya akses masyarat di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan merupakan beberapa permasalahan yang harus dihadapi pada sektor energi," katanya, Senin 2 Juli 2018.

Disisi lain, Indonesia kaya akan tanaman organik seperti bayam, pisang dan jeruk. Hal inilah yang melatari mereka mengoptimalkan potensi kekayaan hayati Indonesia sebagai solusi kebutuhan energi terkini.

Elviliana mengatakan Indonesia sebenarnya kaya akan sayur dan buah buahan. Namun, limbah sayur dan buah-buahan itu terkadang masih belum terolah dengan optimal meski sejatinya masih mengandung potensi.

"Hal ini yang mendasari kami untuk mengolah sampah menjadi barang berkelas. Dari ketiga sampel (bayam, kulit jeruk dan kulit pisang) yang kita uji, terbukti limbah kulit pisang yang paling berpotensi," urainya.

Ketiga mahasiswa ini memanfaatkan limbah bayam, kulit pisang dan kulit jeruk sebagai penghasil listrik menggunakan teknologi MFC (Microbial Fuel Cell). MFC merupakan salah satu teknologi yang mengonversi energi biomassa dari limbah organik menjadi listrik berbasis aktivitas mikroba.  

"Hasil tegangan dan arus listriknya lebih stabil, tidak mengalami penurunan yang signifikan sehingga sangat berpotensi untuk mengatasi masalah energi," ungkapnya.

Keuntungan lain dari teknologi ini adalah sifatnya yang direct conversion sehingga lebih praktis dan efisien. Berbeda dengan teknologi lain yang relatif lebih mahal serta rumit prosesnya.

Bahkan, teknologi MFC ini sangat praktis, karena hanya memasukkan limbah organik yang telah di pre-treatment kedalam reaktor dan listrik pun tercipta.

"Pre-treatment yang kita lakukan pun sederhana karena hanya menghaluskan limbah tersebut menggunakan penggiling rumah tangga biasa. Kita juga tidak menambahkan bahan apapun kedalam reaktor sehingga murni memanfaatkan aktivitas mikroba limbah itu sendiri," pungkasnya.

Penelitian ini diklaim selain mampu mengatasi kebutuhan energi juga sekaligus menanggulangi limbah. Selanjutnya temuan ini akan diikutkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian Eksakta.



(ALB)