Sehari sebelum Dieksekusi, TKI Zaini Minta Didoakan Keluarga

Mohammad Ghazi    •    Senin, 19 Mar 2018 16:52 WIB
eksekusi mati wniperlindungan wni
Sehari sebelum Dieksekusi, TKI Zaini Minta Didoakan Keluarga
Ilustrasi eksekusi mati, Medcom.id - Rakhmat Riyandi

Bangkalan: Keluarga terkejut dan shock mendengar kabar eksekusi tenaga kerja Indonesia (TKI), Zaini Misrin, di Arab Saudi. Sebab dua hari lalu, Zaini masih berkomunikasi dengan keluarga via sambungan telepon. Dalam komunikasi terakhir itu, Zaini memohon keluarga mendoakan dirinya.

Syaiful Thoriq, anak tertua Zaini, mengatakan berkomunikasi dengan ayahnya pada Sabtu, 17 Maret 2018. Saat itu, ayahnya tak mengabarkan akan dieksekusi esok hari.

Baca: WNI Dieksekusi, Jokowi Diminta Batalkan Kunjungan ke Arab Saudi

Menurut Syaiful, Zaini hanya menanyakan kabar keluarga di Madura. Zaini juga mengatakan dalam kondisi sehat. 

"Kemungkinan dia juga tidak tahu bahwa akan dieksekusi keesokan harinya. Karena tidak ada firasat apapun saat kami berkomunikasi," kata Syaiful di rumahnya di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin, 19 Maret 2018.

Sehingga, saat mendengar kabar eksekusi, Syaiful dan keluarga bingung. Karena, pemerintah Arab Saudi maupun Indonesia tak memberikan kabar pelaksanaan hukuman pancung pada Zaini.

Baca: Tanpa Pemberitahuan, Arab Saudi Eksekusi Mati TKI Asal Jatim

"Saat ini, kami belum tahu akan berbuat apa. Karena ayah kami sudah dieksekusi. Kami hanya bisa melakukan doa bersama di sini dan memasrahkan 
kasus ini ke pemerintah RI," ungkap Syaiful Thoriq.

Zaini merupakan TKI asal Desa Kebun, Kecamatan Kamal. Ia bekerja sebagai sopir di Arab Saudi sejak 1992 melalui jalur resmi.

Pada 13 Juli 2004, polisi Arab Saudi menangkap Zaini atas tuduhan membunuh majikannya yang bernama Abdullah bin Umar Muhammad Al Sindy. Pengadilan Arab Saudi pun menjatuhkan vonis mati pada Zaini dalam sidang yang berlangsung pada November 2008.

"Terakhir kali dia pulang ke Madura pada 2002 lalu dan setelah itu, tidak pulang lagi karena dua tahun kemudian ditangkap dan dipenjara," ungkap Syaiful.


(RRN)