Mahasiswa Thailand Praktik Membuat Tempe di UKWMS

Pelangi Karismakristi    •    Kamis, 31 May 2018 18:56 WIB
beasiswa osc
Mahasiswa Thailand Praktik Membuat Tempe di UKWMS
Mahasiswa dari Saint Louis College (SLC) Bangkok praktik membuat tempe. Foto: Dok. UKWMS

Surabaya: Sebanyak lima orang delegasi mahasiswa dari Saint Louis College (SLC) Bangkok berkunjung ke Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam program pertukaran pelajar dan karyawan atau Students Faculty Exchange Program.

Program ini diharapkan menjadi wadah berbagi ilmu, pengalaman, dan budaya dengan rekanan dari Thailand khususnya SLC, serta  mempererat hubungan kedua belah pihak.

Selain belajar secara akademik dan praktik terkait ilmu  keperawatan, program ini juga dilengkapi dengan sederet kegiatan lain, seperti perkenalan budaya antar kedua negara. Menariknya, mereka juga diajak berkunjung ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UKWMS dan diperlihatkan langsung cara pembuatan lauk khas Indonesia, yakni tempe.

Praktik pembuatan tempe ini difasilitasi oleh beberapa Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UKWMS, yakni Joek Hendrasari dan Ignatius Srianta. Keduanya memaparkan dengan jelas pembuatan tempe mulai dari asal, kandungan, manfaat, serta proses pembuatan hingga dapat dikonsumsi.

"Tempe merupakan super food dari Indonesia, hal ini dikarenakan di dalam tempe terkandung banyak protein, vitamin, dan bio active component yang bermanfaat bagi kesehatan serta dapat mencegah timbulnya berbagai macam penyakit. Selain itu, tempe memiliki cita rasa khas bagi para penikmatnya," papar Srianta dalam keterangan tertulisnya, Kamis 31 Mei 2018.

Para delegasi ini juga diberi kesempatan untuk terlibat langsung pembuatan makanan yang berbahan baku kedelai ini. Kacang kedelai terlebih dahulu melalui beberapa proses seperti sortasi, pencucian, pengukusan, perendaman, penirisan, penguapan, pendinginan, pengemasan, hingga proses fermentasi pada suhu tertentu selama dua hari sebelum menjadi tempe.

Setelah kacang kedelai siap untuk diolah maka kacang kedelai dicampur dengan bakteri Rhizopus dalam takaran yang telah disesuaikan. Kemudian kacang kedelai dikemas dalam plastik steril dan diberi lubang menggunakan jarum di beberapa titik pada kemasan. Pelubangan itu untuk menciptakan ruang bagi udara yang dibutuhkan oleh bakteri dalam proses perkembangannya, dan langkah terakhir ialah meletakan kacang kedelai dalam kemasan di ruang tertutup selama dua hari hingga menjadi tempe siap olah.

Tak hanya itu saja, usai pembuatan tempe, para delegasi mencicipi beberapa jenis olahan tempe. Salah satu delegasi, Rungdara mengaku terkesan dengan kuliner asli Indonesia ini. Ia bahkan melahap tempe dengan nikmat.


(ROS)