Kasus Investasi Yusuf Mansur

Kuasa Hukum Korban Belum Terima SP3

Syaikhul Hadi    •    Minggu, 01 Oct 2017 12:20 WIB
investasi
Kuasa Hukum Korban Belum Terima SP3
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Surabaya: Surat Permohonan Penghentian Perkara (SP3) terkait kasus dugaan penipuan investasi Condotel Moya Vidi dengan terlapor Jaman Nur Chotib atau yang lebih dikenal sebagai Ustaz Yusuf Mansur belum sampai di tangan kuasa hukum korban. Sudarso Arief Bakuma pun mengaku, heran dengan penghentian kasus ini.

"Sampai saat ini, kami belum menerima surat resmi dari Kepolisian," kata Sudarso di Surabaya, Jawa Timur, Minggu 1 Oktober 2017.

Meski begitu, Sudarsono tak mau gegabah. Jika benar SP3 sudah keluar, pihaknya akan mencermati keputusan tersebut.

"Kami akan mempelajari alasan-alasan polisi menghentikan kasus ini, baru nanti kita tentukan sikap dan langkah ke depannya," jelasnya.

(Baca: Polisi Hentikan Kasus Investasi Yusuf Mansur)

Menurut Sudarsono, pihaknya tak segan-segan melaporkan ke Propam jika nantinya ditemukan kejanggalan terkait penghentian kasus. Bahkan, ia berniat melaporkan kembali kasus ini ke Mabes Polri.

"Bisa juga tempuh upaya praperadilan," tegasnya.

Polisi, lanjut Sudarsono, harusnya melihat kasus ini sebagai masalah penting. "Apalagi sekarang banyak terungkap kasus-kasus penipuan investasi yang berkedok agama, seperti dalam perkara yang kami laporkan ini. Polisi harusnya lebih proaktif dalam penyidikan. Jangan menunggu sampai muncul banyak korban lalu kemudian baru diproses yang benar," ucapnya.

Sebelumnya, polisi menghentikan kasus dugaan penipuan investasi Condotel Moya Vidi yang menyeret nama Ustaz Yusuf Mansur karena belum cukup bukti. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi dan dokumen yang dimiliki Kepolisian, penyidik menyimpulkan bahwa Yusuf Mansur tidak terbukti melakukan penipuan dan penggelapan, sebagaimana yang dituduhkan pelapor.

(Baca: 16 Saksi Diperiksa Terkait Kasus Investasi Yusuf Mansur)

Kasus ini bermula dari laporan sejumlah peserta program Investasi Condotel Moya Vidi ke Mapolda Jatim pada Juni 2017. Pada program investasi Condotel Moya Vidi, Yusuf Mansur menawarkan investasi berbentuk sertifikat dengan harga Rp2,75 juta per lembar. Sertifikat disertai skema keuntungan yang dijanjikan.

Belakangan, program investasi itu dialihkan untuk bisnis hotel, bukan condotel seperti yang disebut dalam perjanjian. Akibatnya, para nasabah merasa tidak puas dalam penyelenggaraan program investasi yang hanya diberitahu melalui website.


(NIN)