Curhat Warga soal Ribetnya Transportasi Konvensional

Syaikhul Hadi    •    Sabtu, 14 Oct 2017 18:54 WIB
taksi onlinetransportasi berbasis aplikasi
Curhat Warga soal Ribetnya Transportasi Konvensional
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani

Metrotvnews.com, Surabaya: Warga Surabaya menuntut kemudahan transportasi di perkotaan. Mereka merasa kemudahan dan keunggulan transportasi online, tak akan bisa didapat dari angkutan konvensional yang saat ini ada.

Tuntutan ini muncul dari bayang-bayang hilangnya transportasi online yang ditekan sopir angkutan konvesional. Selain mengganggu mobilitas masyarakat, para pengguna setia angkutan online juga akan merasa kehilangan.

Sofyan, asal Desa Ngingas, Waru Sidoarjo, misalnya. Sofyan di tengah kesibukannya menjadi wiraswasta, merasa sangat terbantu dengan keberadaan transportasi online.

Ribet. Begit yang dia rasakan bila harus naik angkutan konvensional yang masih belum rapi tertata.

Dia harus beberapa kali berganti moda saat berangkat kerja. Pertama, dia harus naik becak dulu melewati pabrik paku Sidoarjo. Setelahnya, dia harus menyeberang kali besar untuk bisa naik angkot untuk sampai ke tujuan.

"Berbeda sekali, jika kita naik taksi online. Kapan pun kita bisa panggil dan dijemput kerumah. Kemudian langsung diantar ke tempat tujuan. Menurut saya ini lebih efisien," terang Sofyan, Sabtu 14 Oktober 2017.

Belum lagi jika dia harus membawa anaknya saat bekerja. Tentu hal ini menjadi bahan pertimbangan jika nantinya di kembali beralih ke transportasi konvensional.

"Kalau di perkotaan seperti ini sudah wajar taksi online menjamur. Karena masyarakat sudah bisa menilai mana yang enak untuk bepergian," tambahnya.

Dirinya tak bisa membayangkan jika nantinya taksi online diberhentikan.

Faisol yang berasal dari Surabaya juga tidak sepakat jika pemerintah memberhentikan operasional transportasi online. Dia yakin akan banyak pengemudin angkutan online yang menganggur.

Di satu sisi, angkutan konvensional memaksa pemerintah angkutan online berhenti beroperasi karena takut rezeki direbut. Di sisi lain, mereka justru menyerobot hak pengemudi online mencari nafkah.

"Kasihan mereka yang sudah susah payah bekerja dan mencari pelanggan. Dalam hal ini sebenernya mereka semua sama-sama mencari pekerjaan atau finansial untuk mencukupi kebutuhannya," jelasnya.

Faisol pun senada dengan Sofyan soal ribetnya angkutan konvensional. Ojek online bisa blusukan ke rumah-rumah pelanggannya untuk memberikan pelayanan terbaik, tanpa harus berjalan dulu dari rumah ke pangkalan. Selain itu, untuk taksi online juga dirasa murah.

"Misal kita mau rombongan dengan tujuan yang sama akan lebih murah dibanding naik konvensional yang jauh lebih mahal," tandasnya.


(SUR)