Hindari Kekerasan, Orangtua Diingatkan Peka dengan Perubahan Sikap Anak-anak

Antara, Syaikhul Hadi    •    Minggu, 20 Nov 2016 12:56 WIB
kekerasan anak
Hindari Kekerasan, Orangtua Diingatkan Peka dengan Perubahan Sikap Anak-anak
Ilustrasi kekerasan pada anak, Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Surabaya: Kenali dan peka terhadap perubahan sikap pada anak-anak. Kepekaan itu merupakan salah satu cara untuk melindungi anak-anak dari tindak kekerasan dan kejahatan seksual.

Demikian disampaikan pemerhati anak di Sidoarjo, Jawa Timur, Luluk Fauziyah. Luluk menegaskan perlindungan dan perhatian para orangtua sangat penting bagi anak-anak.

"Misal, awalnya anak periang, tiba-tiba menjadi pemurung. Lantaran itu orangtua harus peka pada kondisi anak-anak," ungkap Luluk kepada Metrotvnews.com seperti yang ditulis pada Minggu (20/11/2016).

Luluk mengatakan tindakan kekerasan akan menyisakan trauma yang mendalam. Selain psikolog, pendampingan orangtua dan masyarakat dapat memulihkan anak-anak dari rasa trauma.

Salah satu caranya yaitu melaporkan tindak kekerasan yang terjadi pada sang anak. Sikap itu memberikan efek jera pada pelaku kekerasan.

Untuk pemulihan psikologis korban, Luluk mengatakan beberapa lembaga sudah berperan aktif. Ia menyebutkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB), serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). 

"Setiap anak yang sedang ditangani, akan diberikan pelayanan hingga sembuh total," lanjut Luluk.

Tak mudah mengembalikan kondisi psikologis anak-anak. Proses pemulihan dan penyembuhannya membutuhkan waktu yang beragam mulai dari empat bulan hingga dua tahun.

Sementara itu, Polda Jawa Timur menyatakan kekerasan pada anak dan perempuan meningkat setiap tahun. Bahkan, Jatim layak disebut dalam status darurat kekerasan pada anak.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jatim Kompol Yasinta mengatakan menerima laporan 672 kasus kekerasan pada anak dan perempuan di 2015. Ia memperkirakan jumlah tersebut bakal bertambah pada 2016.

"Hingga September saja, kami sudah menerima 600 laporan," kata Kompol Yasinta dalam acara talkshow di Surabaya, Jatim, Sabtu (19/11/2016) malam.

Yasinta mengatakan kasus kejahatan persetubuhan dan kekerasan mendominasi laporan. Kabupaten Malang pun menjadi lokasi dengan laporan paling banyak.

Menurut Yasinta, peningkatan laporan berbanding lurus dengan sosialisasi tentang kekerasan pada anak. Sehingga masyarakat mulai terbuka untuk melaporkan kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak mereka.

"Jadi tak perlu lagi takut atau malu untuk melaporkannya," ungkap Yasinta.

Yasinta mengatakan memproses semua laporan dan menanganinya hingga ke kejaksaan. Sebab bila terlalu lama mengendap, kepolisian akan kesulitan mengumpulkan bukti. Pelaku juga mudah mengelak karena bukti visum hanya menunjukkan luka lama.



(RRN)