Organisasi Ojek Online Ikut Aksi May Day di Malang

Daviq Umar Al Faruq    •    Selasa, 01 May 2018 13:51 WIB
may day
Organisasi Ojek Online Ikut Aksi May Day di Malang
Beberapa buruh memperingati May Day di Alun-Alun Kota Malang, Selasa 1 Mei 2018, Medcom.id - Daviq

Malang: Ratusan buruh di Kota Malang, Jawa Timur, memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) dengan menggelar aksi turun ke jalan, Selasa 1 Mei 2018 pagi. Para buruh ini menggelar aksi demo di Alun-Alun Kota Malang dan Balai Kota Malang.

Massa yang melakukan aksi demo ini sejak pukul 09.00 WIB ini terdiri dari berbagai serikat pekerja di Malang. Mulai dari Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Solidaritas Gerakan Buruh Indonesi (SGBI), Organisasi Ojek Online, serta beberapa organisasi mahasiswa.

Dalam aksi ini, para buruh menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Mulai dari upah buruh yang dinilai belum layak, hak buruh yang belum diberikan pengusaha, menolak Perpres Nomor 20 tahun 2018 tentang TKA dan lain-lain.

Ketua Umum FPBI, Lutfi Hafidz mengatakan aksi ini digelar untuk menunjukkan eksistensi gerakan buruh. Selain itu, aksi ini diadakan juga untuk menyuarakan berbagai persoalan buruh yang tak kunjung terselesaikan.

"Persoalan buruh bukan hanya permasalahan tenaga kerja. Tetapi juga permasalahan politik. Berkaitan dengan kebijakan yang tidak berpihak atau pro kepada rakyat. Selain itu juga persoalan ekonomi dan sosial, itu persoalan buruh," katanya kepada awak media.

Oleh karena itu, Lutfi mengaku para buruh di Malang sepakat untuk terus menyuarakan keberadaan mereka. Namun disisi lain, dia mengaku bahwa saat ini para serikat buruh di Malang telah terpecah belah.

"Kami dipecah pecah hari ini. Sebab ada beberapa kawan-kawan buruh dari serikat lain yang malah tidak mengadakan kegiatan seperti ini. Malah mengadakan syukuran dan rekreasi. Ini salah satu bentuk pengalihan dari proses perjuangan selama ini yang kemudian mengalami kemunduran," keluhnya.

Meski begitu, para serikat buruh bakal tetap menyuarakan aksinya meskipun dengan jumlah yang sedikit. Lutfi menegaskan bahwa pihaknya bakal terus menolak semua kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada buruh.

"Kita sangat miris. Meskipun kita sedikit tapi kita akan tetap muncul dan terus ada. Terlebih lagi masuknya tenaga kerja asing yang terus merangsek dan dimungkinkan bisa menggeser posisi teman teman kerja di perusahaan," pungkasnya.


 


(RRN)