Mentan Gerebek Gudang Penimbun Ratusan Ribu Ton Garam

Amaluddin    •    Jumat, 19 May 2017 18:06 WIB
garambahan pokok
Mentan Gerebek Gudang Penimbun Ratusan Ribu Ton Garam
Ribuan ton garam industri di salah satu perusahaan di Gresik, Jawa Timur. (MTVN/Amal).

Metrotvnews.com, Surabaya: Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menyita 116 ribu ton garam di kawasan pergudangan sekitar Jalan Mayjend Sungkono, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Garam tersebut merupakan garam impor dari Australia yang ditimbun dan dijual ke masyarakat.

Temuan ini dilihat langsung oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman bersama Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin dan Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Agus Suhardi. Amran geram setelah mengetahui perusahaan yang diduga telah melakukan penyalahgunaan izin peredaran garam konsumsi. 

"Mereka beli garam industri. Namun, diolah lagi untuk menjadi garam konsumsi. Ini kan pelanggaran berat. Perusahaan yang terbukti menyalahgunakan ijin harus diberi sanksi tegas," tegasnya. 



Menteri Pertanian Amran Sulaiman bersama Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin dan Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Agus Suhardi.
Amran menduga penimbunan garam impor itu berlangsung cukup lama. "Gudang ini terbilang besar dan sudah beroperasi cukup lama," kata Amran.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin menambahkan bahwa garam tersebut merupakan garam industri, namun digunakan sebagai garam konsumsi masyarakat. "Bedanya garam konsumsi kadarnya 94 persen, sementara garam industri 97 persen. Nah ini adalah jenis garam industri yang kemudian disalahgunakan dikemas menjadi garam konsumsi," tuturnya.

Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sepakat dengan Menteri Pertanian. Perusahaan yang terbukti melanggar ijin harus mendapat sanksi berat. Sanksinya adalah langsung mencabut izin usaha. 

"Ini saatnya para pengusaha merenung, sudah tidak waktunya lagi menyengsarakan masyarakat. Yang mestinya garam untuk industri ya untuk industrilah jangan diedarkan untuk konsumsi," imbuhnya.


(ALB)