Petik Laut, Cara Bersyukur Nelayan Sumenep

Rahmatullah    •    Sabtu, 02 Dec 2017 15:21 WIB
nelayan
Petik Laut, Cara Bersyukur Nelayan Sumenep
Nelayan Desa Aengdake Sumenep saat melepas kenduri di tengah laut – Medcom.id/ Rahmatullah

Sumenep: Nelayan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memiliki cara unik mensyukuri hasil tangkapan ikan selama satu tahun. Seperti nelayan di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, mereka pawai perahu hias ke tengah laut, Sabtu 2 Desember 2017. Kegiatan itu biasa disebut sebagai petik laut. Seperti kegiatan tradisional lainnya, petik laut juga menyedot perhatian banyak pengunjung.

Sebelum melayarkan perahu hias, para nelayan terlebih dahulu membaca salawat dan doa di tepi pantai. Harapannya, hasil tangkapan di hari-hari mendatang semakin melimpah, dan selamat saat di perairan. 

Di dekatnya terdapat sebuah kenduri yang dibentuk mirip perahu. Di dalamnya berisi kepala kambing, seekor ayam, buah, bunga dan berbagai macam kue. Kenduri itulah yang kemudian diarak ke tengah laut dengan pawai perahu.



Menariknya, ketika tiba di tengah laut, puluhan perahu hias itu berlayar melingkar, membentuk formasi menyerupai huruf ‘O’. Setelah beberapa kali berlayar melingkar, akhirnya kenduri tersebut dilarung. Kala itu, para nelayan dan keluarga yang ikut serentak berdoa untuk keselamatan pelayaran dan kemudahan rezeki. Mereka pun kembali ke tepi dengan melayarkan perahu beriringan.

Seorang nelayan, Edi, mengungkapkan perlu biaya Rp600 ribu untuk menghias perahu. Biaya tersebut untuk beli aksesoris dan cat. Dia mengaku tidak keberatan mengeluarkan biaya tersebut. Selain karena untuk kepentingan pribadi, juga dilakukan berjamaah dengan nelayan lain. Bahkan dia mengaku cukup senang.

“Kegiatan ini sudah tradisi bagi kami,” tuturnya.



Sementara keluarga nelayan, Wati, mengungkapkan momentum tersebut sangat ditunggu, karena hanya diadakan satu kali dalam satu tahun. Bahkan anaknya izin tidak masuk sekolah untuk ikut naik perahu hias tersebut.

“Semoga ke depan rezeki kami semakin dimudahkan,” harapnya.

Selebihnya, Wati menuturkan biasanya kenduri yang dilarung ke laut langsung diambil nelayan luar yang kebetulan lewat. Sehingga meski di antaranya ada ayam yang masih hidup, bisa dipastikan terselamatkan.

“Itu tuh, sudah ada nelayan yang mendekati kenduri,” ujarnya di tepi pantai sambil menudingkan telunjuk ke tengah laut.


(ALB)