BKSDA: Nenek Penangkar Ratusan Satwa di Jember Tak Punya Izin

Amaluddin    •    Rabu, 10 Oct 2018 17:52 WIB
satwa dilindungi
BKSDA: Nenek Penangkar Ratusan Satwa di Jember Tak Punya Izin
Kapolda Jawa Timur, Irjen Luki Hermawan saat memantau peternakan hewan dilindungi di Dusun Krajan A RT 01/10, Desa Curah Kalong, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa, 9 Oktober 2018.. Foto: Polda Jatim.

Surabaya: Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Nandang Prihadi, menyebut perempuan berinisial K, 60, tidak memiliki izin resmi menangkar ratusan satwa dilindungi. Karena itu, Polda Jatim menetapkan nenek tersebut sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

"Awalnya memang punya izin resmi, tapi sejak September 2018 izinnya mati," kata Nandang, dikonfirmasi, Rabu, 10 Oktober 2018.

Nandang menjelaskan, bahwa awalnya tempat penangkaran tersangka mengantongi izin resmi alias legal. Tersangka menangkar satwa menggunakan CV Bintang Terang dan PT Bintang Terang sejak tahun 2015. Bahkan tersangka juga punya izin resmi untuk mengekspor satwa tersebut ke luar negeri. 

"Tapi surat ijin edarnya ke luar negeri juga sudah kedaluawarsa per 27 September 2018," kata Nandang.

Menurut Nandang, nenek pecinta satwa itu punya 600 satwa ekor burung diternak di wilayah Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Namun jumlah satwa itu menjadi 443 atau berkurang 157 satwa pada tahun 

2018. "Kami masih belum tahu apakah satwa yang berkurang itu diekspor atau mati. Nanti masih didalami Polda Jatim," katanya.

Saat ini, lanjut Nandang, sebanyak 25 dari 443 ekor satwa tersebut dititipkan di BKSDA Jatim. Sedangkan sisanya masih dititipkan di tempat ternak tersangka tersebut. "Untuk kasus ini kami minta bantuan pengamanan dan pengawalan dari Polda Jatim," ucap Nandang.

Sementara itu, kuasa hukum tersangka K, Imam Luthfi, berharap kliennya tidak ditahan karena masih sakit. Meski demikian, ia memastikan bahwa kliennya siap kooperatif selama proses penyidikan di Mapolda Jatim.Namun Imam tidak banyak komentar saat ditanya terkait surat ijin ternak dan ekspor satwa tersebut. "Itu sudah memasuki materi penyidikan," kata Imam.

Dari pengungkapan kasus itu, polisi menyita 443 ekor berbagai burung yang dilindungi, terdiri dari 212 ekor Nuri Bayan (Eclectus Roratus), 99 ekor Kakaktua Besar Jambul Kuning (Cacatua Galerita), 23 Kakaktua Jambul Orange (Cacatua Molluccensis), 82 ekor Kakaktua Govin (Cacatua Govineana), 5 ekor Kakaktua Raja, 1 ekor Kakatua Alba. 

Disita juga 1 ekor Jalak Putih, 6 ekor Burung Dara Mahkota (Gaura Victoria), 4 ekor Nuri Merah Kepala Hitam (Lorius Lory), 4 ekor anakan Nuri Bayan, 6 Nuri Merah (Red Nury), 61 butir telur burung Bayan dan Kakaktua. 

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 21 ayat 2 huruf A dan Huruf E, Undang-Undang nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dengan denda Rp100 juta.


(ALB)