Tak Kunjung Pulang, Nuchin Jadi Korban Ledakan di Surabaya

Syaikhul Hadi    •    Selasa, 15 May 2018 07:36 WIB
Teror Bom di Surabaya
Tak Kunjung Pulang, Nuchin Jadi Korban Ledakan di Surabaya
Suasana rumah duka, Nuchin, yang menjadi korban bom gereja di Surabaya. (Medcom.id/Syaikhul Hadi)

Sidoarjo: Nuchin, 56, asal Desa Tropodo, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, jadi korban ledakan bom di Gereja Pusat Pantekosta Surabaya (GPPS) Jalan Arjuno, Surabaya. Jenazah Nuchin, telah disemayamkan pada Senin malam, 14 Mei 2018 di desanya puku; 20.15 WIB. 

Keluarga Nuchin, sebelumnya khawatir lantaran pria paruh baya itu tak kunjung pulang. Keponakan NUchin, Ali, 37, mengaku tak menyangka pamannya jadi korban. 

"Saya enggak tahu perginya kemarin. Cuma dari keluarga sini, terutama istrinya bingung, cemas, karena si bapak enggak pulang-pulang sejak pagi. Katanya beli sesuatu di pasar loak," ungkap Ali usai pemakaman korban. 

Ali menuturkan, keluarga masih tak menyangka dan tak percaya Nuchin menjadi salah satu korban ledakan. Karena, kala itu Nuchin pamit akan ke pasar loak. Sedangkan ledakan bom terjadi di gereja. 

Keluarga yang khawatir, mulai mencari informasi keberadaan Nuchin lewat media sosial, hingga melapor ke perangkat setempat. Namun, kecemasan bertambah setelah mendengar informasi korban ledakan mencapai puluhan orang.

"Esok harinya, kita mulai mencari informasi kepada kepolisian terkait kehilangan pakde. Dan hasilnya benar, Pakde menjadi korban dalam bom gereja kemarin saat dia melintasi kawasan Arjuno Surabaya," tuturnya.

Setelah itu, keluarga bersama perangkat desa langsung menjemput korban di RS. Bhayangkara Polda Jatim untuk dibawa dan disemayamkan. Sedangkan di rumah duka, ratusan orang sudah menunggu kedatangan jenazah di antaranya dari anggota Banser, Ansor, NU dan warga setempat mengikuti proses pemakaman. 

Tetangga korban, H. Khozin, 67, juga tidak menyangka jika Nuchin menjadi korban ledakan gereja. Korban dikenal sosok yang baik. Bahkan, korban kerap mengikuti salat berjamaah di masjid terdekat. 

"Orangnya baik. Anaknya tiga, istrinya masih ada. Hanya saja, kami tak menyangka dia bisa menjadi korban bom itu," ucap Khozin 

Korban bekerja di pabrik pembuatan roti Amanda. Ia juga dikenal dengan pria yang ulet. Biasanya, ia kerap berangkat ke pabrik sekitar pukul 16.00 WIB. Khozin juga sempat mendapat kabar, sebelumnya Nuchin sempat mengajak istrinya ke pasar loak. Namun istrinya lebih memilih beraktifitas di rumah.

"Biasanya istrinya ikut kalau ke pasar loak. Dia kan sering ke sana,  membeli barang-barang bekas yang bisa digunakan lagi. Nah, kebetulan kemarin istrinya enggak ikut," ujarnya. 

Setelah insiden sejumlah ledakan di Surabaya, Kepala Desa Tropodo, Yusuf, bekerja sama dengan Polsek Waru, tokoh agama, dan organisasi masyarakat setempat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menintesifkan penjagaan dan mendata ulang pendatang. 

"Masih kita kumpulkan bersama tokoh masyarakat, polisi dan ormas untuk tetap waspada, terutama pada pendatang. Mungkin dengan mengenal tamu, baik yang nge-kos, ngontrak, maupun yang lainnya, insiden seperti kemarin dan hari ini tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang," singkat Yusuf.


(LDS)