Pilgub Jatim Diprediksi Ada Empat Poros Kendaraan Partai

Amaluddin    •    Jumat, 17 Mar 2017 17:23 WIB
pilkada 2018
Pilgub Jatim Diprediksi Ada Empat Poros Kendaraan Partai
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Surabaya: Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo, memprediksi ada empat poros partai politik (parpol) menjadi kendaraan kandidar pada pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018. Poros pertama adalah PKB, partai besutan Muhaimin Iskandar ini memiliki 20 kursi, memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri.

"Berikutnya adalah PDIP yang memiliki 19 kursi. Sedangkan sisanya adalah partai poros tengah, seperti Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan seterusnya," kata pria yang juga dosen Fisip Unair itu, Jumat, 17 Maret 2017.

Meski demikian, kata Suko, semua parpol berpeluang memilih tokoh yang saat ini namanya muncul dipermukaan. Saat ini sudah muncul empat tokoh yang bakal meramaikan pilgub Jatim. Yakni Saifullah Yusuf alias Gus Ipul (kini Wakil Gubernur Jatim), Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim), Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI), dan Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya).

Menurut Suko, keempat nama tersebut berpotensi cukup besar diusung parpol. Misal Risma bisa diusung PDIP sebagai kader terbaik, kemudian Khofifah bisa melalui partai poros tengah seperti Gerindra, NasDem, Hanura, Golkar, lalu Halim bisa melalui PKB, dan Gus Ipul bisa dari Demokrat, Golkar, PPP, PAN. "Itu prediksi saya. Tapi politik itu sangat dinamis, bisa berubah kapan saja," katanya. 

Sampai saat ini, hanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang secara terang-terangan telah menyatakan bakal mengusung kader sendiri yakni Abdul Halim Iskandar, sementara parpol lainnya masih belum menentukan sikap.

"Ini merupakan langkah wajar. Saat ini saya lihat setiap partai mulai melakukan test water semacam monitoring terhadap nama yang diterima masyarakat. Parpol masih mengamati menjajaki terhadap calon atau tokoh-tokoh yang ada," kata pria yang juga dosen Fisip Unair itu.

Namun, kata Suko, peta politik akan berubah ketika partai telah mengumumkan calon secara resmi ke publik. Ia memprediksi keputusan dan finalisasi partai untuk mengusung calon akan ditentukan di penghujung waktu penutupan pendaftaran cagub atau injuri time.

"Politik ini tidak ada musuh abadi. Di Indonesia tidak ada koalisi ideologi tetapi koalisi kemenangan. Apalagi tradisi kita yang penting menang dan partai berfikir lebih realistis. Yang jelas partai kan melihat siapa yang berpeluang menang, itulah yang bakal diusung dan didukung nantinya," pungkas pria yang juga Humas Unair ini.


(ALB)