Normalisasi Sungai Solusi Banjir Pasuruan

Syaikhul Hadi    •    Selasa, 09 Jan 2018 18:05 WIB
banjirbencana banjir
Normalisasi Sungai Solusi Banjir Pasuruan
Foto: Medcom.id/Syaikhul hadi

Pasuruan: Kabupaten Pasuruan kerap diterjang banjir setelah dua sungai, yakni Sungai Kedung Larangan dan Sungai Merapi, di kawasan ini tak dinormalisasi 35 tahun belakangan. Normalisasi sungai dianggap menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir yang sudah menjadi langganan karena lantaran dua sungai ini mendangkal.

Intensitas air yang ada di sungai tersebut tak mampu menampung banyaknya air karena pendangkalan. Terutama saat terjadinya hujan deras.

"Seingat saya, sudah pernah dilakukan normalisasi yakni ditahun 80-an. Dampaknya hampir 15 tahun enggak pernah banjir lagi," ujar Camat Bangil, Pasuruan, Rachmat Syarifuddin, Selasa, 9 Januari 2018.

Pihaknya sudah mengusulkan normalisasi sejak 2017 ke pemerintah. Namun, rencana itu belum bisa dilakukan lantaran harus melewati beberapa proses. "Sudah di sosialisasikan. Rencananya sih akan dilakukan. Cuma sekarang masih tahapan-tahapan," tambah Rachmat.

Saat sosialisasi, pemerintah meminta agar masyarakat bisa mengantisipasi adanya rencana pengerukan dua sungai besar di Pasuruan tersebut. Salah satunya tempat yang menjadi penampungan tanah hasil pengerukan sungai.

Rencananya, pembuangan tanah hasil normalisasi akan dibuang di desa Kedung botol kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. "Jadi yang perlu diantisipasi ya tempat pembuangan tanahnya. Karena itu dikeruk, pastinya membutuhkan lahan yang banyak. Karena saat ini kedua sungai itu mengalami pendangkalan. Mudah-mudahan tahun ini bisa dilaksanakan normalisasi," harapnya.

Senada disampaikan Lurah Kalianyar Edi Santoso. Banjir yang menggenangi kawasan tersebut berdampak pada 1.400-an kepala keluarga (KK). Menurutnya, genangan air setinggi 110 sentimeter tersebut merupakan air kiriman dari atas yakni kawasan Pandaan Pasuruan yang tidak bisa menampung intensitas air.

"Sungai sudah mengalami pendangkalan. Dan harus di normalisasi. Ketika air itu turun dari atas, akhirnya meluber ke perumahan warga," jelas Edi.

Hujan yang diperkirakan sejak Minggu lalu, kini sudah mengalami surut. Kondisi banjir menjadi hal yang biasa bagi warga setempat. Karena setiap tahun pasti mengalami hal yang sama. Banjir itu akan terus berdatangan sebelum pemerintah melakukan langkah - langkah normalisasi sungai dan peninggian tangkis yang ada di sungai.

"Selain banjir, di dusun lain seperti dusun Malarui itu tanggulnya sempat jebol. Maka, hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah untuk menanggulangi banjir susulan. Terutama Normalisasi dan peninggian tangkis," jelasnya.


(SUR)