Kualitas Beras Impor Tak Sebaik Beras Lokal

Syaikhul Hadi    •    Senin, 26 Feb 2018 21:30 WIB
berasimpor berasberas impor
Kualitas Beras Impor Tak Sebaik Beras Lokal
Beras impor di gudang Bulog Sub Divre Surabaya Utara di Desa Banjar Kemantren, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, 26 Februari 2018.

Sidoarjo: Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo memantau kedatangan beras impor di gudang Bulog Sub Divre Surabaya Utara di Desa Banjar Kemantren, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, 26 Februari 2018.

Hasilnya, Bambang mendapatkan beras hasil petani lebih bagus dibanding hasil impor. "Setelah dilihat lagi, beras impor ini kualitasnya dibawah beras petani lokal. Mudah patah, dan kualitasnya lebih bagus beras hasil petani sendiri," kata Bambang di lokasi.

Bambang mengatakan, kedatangan beras impor sebanyak 40 ribu ton dinilai sia-sia karena berbarengan dengan panen raya di Papua sebanyak 300 ribu ton. Apalagi rencananya, beras impor itu akan didistribusikan ke wilayah Indonesia Timur. 

"Lantas, buat apa impor. Wong sekarang di Papua sedang panen raya sebanyak 300 ribu ton. Pemerintah justru mendatangkan dari luar. Bahkan kualitasnya tak lebih bagus dari hasil produksi petani sendiri," ujar Bambang. 

Menurutnya, ditengah panen yang sedang melimpah dan masuknya beras impor, dikhawatirkan berdampak pada iklim pertanian di Indonesia. Sehingga akan menyulitkan kalangan petani sendiri. 

"Dalam hal ini, Kementerian Perdagangan dan Pertanian harus bisa mengatur distribusi beras. Dan yang lebih penting lagi, jika produksi hasil petani seperti sekarang ini sudah bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, maka pemerintah sudah tidak perlu lagi mengimpor beras. Karena akan mengganggu iklim pertanian di Indonesia," tegasnya. 

Pihaknya menilai, impor beras yang dilakukan pemerintah tidak didasari kajian yang cermat sesuai perdagangan dan suplai pasar. Seharusnya, pemerintah bisa melakukan penelitian terkait kebutuhan beras termasuk pendistribusiannya.  

"Kira-kira wilayah mana saja yang saat ini sedang kekurangan beras. Termasuk penelitian terhadap kualitas beras yang akan dikonsumsi masyarakat. Apakah pulen atau pera. Jangan sampai hasil impor justru lebih buruk dibanding hasil produksi petani kita sendiri," jelasnya.

Sementara, Kepala Bulog Divre Jatim, Cecep Panji Nanda mengatakan gudang penyimpanan di Bulog ini hanya untuk transit saja. Beras impor sebanyak 40 ribu ton yang datang melalui pelabuhan Tanjung Priok Surabaya dan Tanjung Wangi Banyuwangi tersebut, rencananya akan didistribusikan ke Indonesia bagian Timur. 

"Seperti Papua. Ambon dan NTT," jelas Cecep. 



(ALB)