Gempa dan Tsunami di Palu

Usaha tak Henti Mardi Temukan Putrinya di Palu

Syaikhul Hadi    •    Jumat, 05 Oct 2018 13:28 WIB
Gempa Donggala
Usaha tak Henti Mardi Temukan Putrinya di Palu
Warga Palu tinggal sementara di posko di Mes Bhaskara Sidoarjo sebelum pulang ke kampung halaman, Jumat, 5 Oktober 2018. Mereka merupakan warga Palu yang terbang ke Pulau Jawa setelah bencana mengguncang, Medcom.id - Hadi

Sidoarjo: Mardi mengajak istri dan dua anaknya menyelamatkan diri saat gempa mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018. Ia panik, takut, semuanya campur aduk. Kepanikannya bertambah mengingat anaknya tinggal indekos di dekat pantai.

Sore itu, ujar Mardi, ia bersama istri dan dua anaknya berada di rumah. Guncangan terasa. Ia melihat orang-orang berlari lintang pukang.

"Ada yang ke gedung, ada yang ke bukit, hutan. Kami makin panik melihat ombak tinggi," kata Mardi saat berada di Mes Bhaskara Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis malam, 4 Oktober 2018.

Mardi dan keluarganya pun berlarian menyelamatkan diri. Tiba-tiba, Mardi ingat dengan anak sulungnya yang berada di sebuah rumah indekos. Si anak menyewa kamar yang berdekatan dengan bibir pantai.

Jarak rumah indekos, ungkap pedagang pakaian itu, hanya berjarak setengah kilometer. Kekhawatiran muncul di benak Mardi. Bagaimana nasib anaknya. Putrinya itu menghuni rumah indekos karena berdekatan dengan sekolahnya.

Setelah kondisi membaik, ia dan istri pun bergegas menuju rumah indekos. Setibanya di lokasi, Mardi dan istri tersentak. Rumah indekos itu rata dengan tanah.

"Anak saya tidak ada di sana," kata laki-laki asal Boyolali, Jawa Tengah, itu.

Mardi berusaha tenang meski perasaannya ketar-ketir. Ia terus mencari putrinya hingga esok hari. Usahanya nihil. Namun Mardi masih yakin dapat menemukan putrinya.

Pemerintah pun membangun posko-posko di Palu. Ia pun mengalihkan pencariannya ke posko pengungsian. Kakinya melangkah ke posko di Gedung Wali Kota Palu.

"Alhamdulillah pada Minggu 30 September 2018, saya menemukan anak saya di Gedung Wali Kota. Alhamdulillah keluarga saya selamat semua," ungkap Mardi yang tinggal di Palu sejak 2000 itu.


(Warga yang menjadi korban bencana di Palu mendarat di Pangkalan TNI AL Juanda Sidoarjo, Jatim, Kamis, 5 Oktober 2018, Medcom.id - Hadi)

Saat bertemu, mereka pun berpelukan. Rasa syukur terus diucapkan Mardi dan keluarga apalagi mengingat banyak warga yang kehilangan sanak saudara mereka.

Mardi dan keluarga mengaku trauma dengan kejadian itu. Namun mereka tak mau berlama-lama larut dalam trauma. Mardi bertekad membawa anak-anak dan istrinya pulang kampung ke Boyolali. Ia akan membuka lembaran baru hidup mereka di kampung halaman.

"Saya ingin mencoba usaha baru di kampung," lanjut Mardi.

Kisah senada disampaikan Tasmani, warga asal Lamongan, Jawa Timur. Masih terngiang di pikiran Tasmani dengan kepanikan saat gempa dan tsunami menerjang.

Saat itu, ia tengah menemani suaminya berjualan siomay di Palu. Bencana datang, ia dan keluarganya pun bergandengan tangan menyelamatkan diri.

"Alhamdulillah semuanya selamat. Meski barang-barang dan rumah kos sudah hancur semua, kami tetap bersyukur bisa selamat dan bertemu keluarga lagi di Jawa," ucapnya sembari merangkul anaknya. 



(RRN)