Cerita Dosen UMM Selamat dari Musibah Gempa di Palu

Daviq Umar Al Faruq    •    Jumat, 05 Oct 2018 15:10 WIB
Gempa Donggala
Cerita Dosen UMM Selamat dari Musibah Gempa di Palu
Dr Estu Widodo MHum, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Malang: Lelah. Satu kata yang pantas menggambarkan kondisi Dr. Estu Widodo M.Hum saat ini. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu adalah salah satu korban yang selamat dari bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat, 28 September 2018.

Estu selamat dari bencana yang menewaskan ribuan orang itu setelah terkatung-katung selama berhari-hari. Saat gempa dan tsunami terjadi, dia berada di lokasi yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari Teluk Palu, namun pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini mampu selamat tanpa luka sedikitpun.

Ceritanya bermula saat dosen pendidikan Bahasa Inggris ini ditugaskan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ke Palu. Di sana dia dijadwalkan melakukan supervisi Program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG DALJAB) sebagai anggota tim penilai.

Estu berangkat dari Malang dengan pesawat terbang, Jumat, pukul 05.00 WIB. Sempat transit di Jakarta, Estu tiba di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu sekitar pukul 15.00 WIB. Selang beberapa saat, dia pun langsung menuju Hotel Mercure, tempatnya menginap, di Jalan Cumi-cumi, Pantai Talise, Kecamatan Palu Barat, Palu.

"Saat di jalan menuju ke hotel, saya sempat baca sekilas di HP kalau ada berita gempa, tapi saya abaikan. Saya tidak tahu kalau ternyata gempa saat itu ada di Palu," katanya saat ditemui di kediamannya di Perumahan Muara Sarana Indah, Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 4 Oktober 2018.

Tak merasakan apapun, Estu tiba di hotel sekitar pukul 16.45 Wita dan langsung memesan kamar. Setelah mendapatkan kamar, dia mengaku sempat takjub dan kagum dengan indahnya pemandangan Kota Palu. Sebab kunjungannya ke Palu saat itu adalah yang pertama kali baginya.

"Jarak hotel dengan pantai hanya sekitar 50 meter saja. Sampai di hotel saya sempat menghubungi istri saya. Saya kebetulan dapat kamar yang langsung menghadap ke pantai, saya langsung buka lebar-lebar gorden jendelanya. Ternyata Palu ini indah sekali, ini pertama kalinya saya ke Palu," ungkapnya.

Baru sebentar menikmati keindahan, gempa berkekuatan 7.4 SR pun datang. Estu pun mengaku merasakan getaran yang sangat kencang di kamarnya. Kasur hotel berukuran family di kamarnya pun sampai berputar-putar, bangunan kamar mandi rontok dan barang-barang terlempar hingga berserakan.

"Saat itu saya sedang lihat-lihat daftar menu makanan hotel karena saya lapar dan malas cari makan di luar hotel. Lalu tiba-tiba datang gempa, Rasanya seperti sedang naik bus yang sopirnya ngawur. Saya sempat terbayang seperti film Titanic. Gempa terjadi lebih dari satu menit. Saya pasrah," tuturnya.


Suasana Palu sesaat setelah gempa melanda.

Estu tak kuasa menyelamatkan diri. Pintu kamarnya tak bisa dibuka karena tertahan oleh bangunan yang retak. Keluar dari jendela pun bukan jalan keluar karena posisinya berada di lantai 4. Apalagi tsunami sedang berada tepat di lantai dasar hotelnya. Dia pun memutuskan bertahan di kamar.

"Listrik mati saat itu, kondisi sangat gelap. Saya putuskan bertahan, tidak memungkinkan saya keluar dari hotel saat itu. Saya tiduran di lantai di samping kasur. Jaga-jaga apabila nanti terjadi gempa susulan. Saya sebagai orang Islam hanya bisa berdoa. Saya sempat merasa bahwa hidup saya akan berakhir disini," terangnya.

Karena listrik mati, Estu langsung menonaktifkan ponselnya. Sesekali dia menyalakan kembali untuk memeriksa apakah ada sinyal. Bahkan meskipun tak ada sinyal, dia sempat berkirim pesan kepada istrinya yakni meminta agar pihak keluarga ikhlas apabila dia tidak bisa pulang dengan selamat.

Gorden Penyambung Nyawa

Berada dalam kondisi lapar, Estu menggunakan ponselnya sebagai penerang untuk mengais makanan ringan dari hotel yang berserakan di sekitaran di kamar. Total lulusan S1 Universitas Negeri Jember (Unej) ini bertahan selama 12 jam di kamar hotel, sejak pukul 17.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita keesokan harinya, Sabtu, 29 September 2018.

"Besok paginya, saya keluar dari hotel dari jendela. Saya pecahkan jendelanya dan keluar menggunakan gorden kamar yang saya sambung menjadi panjang. Saya ikatkan di kursi dan ditahan oleh kasur. Karena kalau diikatkan di tembok, saya khawatir ambrol dan bangunannya menimpa saya," urainya.



Sambungan gorden di dinding depan Hotel Mercure yang digunakan Estu untuk menyelamatkan diri.

Sembari menyelamatkan diri, Estu sempat membawa barang pribadinya yang masih bisa diselamatkan seperti laptop dan beberapa pakaian. Saat turun menggunakan gorden, dia juga mendapatkan bantuan tangga yang dipasang di dinding luar hotel oleh petugas hotel yang selamat.

"Kamar saya yang lantai 4 jadi lantai 3 karena bangunan lantai 1 nya hilang terkena tsunami. Saat tiba dibawah saya sempat berdiam diri sejenak dan memandangi hotel yang rusak parah. Bangunan depan hotel hilang semua. Saya sempat melihat mayat juga. Saya nggak bisa menahan tangis," ujarnya.

Selanjutnya, Estu berangkat ke Universitas Tadulako (Untad) untuk menjalankan tugasnya dari Kemenristekdikti. Dia mengendarai ojek seharga Rp125 ribu. Setibanya di sana, ternyata acaranya dibatalkan begitu saja mengingat panitia dan peserta acara banyak yang menjadi korban terdampak gempa.

Tak punya kerabat di Palu, lulusan S2 Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta ini sempat ditampung oleh teman lamanya. Keesokan harinya, Minggu 30 September 2018, dia berencana pulang ke Malang menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU yang digunakan mengangkut para pengungsi.

"Sampai di bandara banyak orang yang mengantre untuk diangkut pesawat Hercules. Saya antre dari pagi sampai sore dan akhirnya memutuskan untuk mundur, tidak jadi naik ini karena enggak tega. Soalnya pesawat darurat ini diprioritaskan untuk orang tua, ibu-ibu, orang sakit dan anak," bebernya.

Hingga, lulusan S3 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini kemudian memutuskan untuk bermalam sehari lagi di Palu. Dia menginap di sebuah penginapan milik pendeta secara gratis. Di sana Estu merencanakan untuk keluar dari Palu menggunakan jalur darat esok harinya, Senin 1 Oktober 2018.

"Saya putuskan naik bus ke bandara di Gorontalo seharga Rp150 ribu. Saya berangkat jam sebelas siang. Jarak ke Gorontalo sekitar 600 km dari Palu. Estimasi waktunya 15 jam, tapi ternyata perjalanan 24 jam. Jalanan macet dan rusak. Bus juga sempat mogok tiga kali," katanya.

Dosen mata kuliah statistik dan metode penelitian ini tiba di Bandara Jalaluddin, Gorontalo, pukul 11.00 Wita, Selasa 2 Oktober 2018. Dia menyempatkan diri untuk mandi dan membeli pakaian ganti. Dia sempat transit di Surabaya dan baru tiba mengendarai mobil travel di Malang sekitar pukul 20.00 WIB.

"Trauma tidak, karena saya percaya kematian saya telah digariskan oleh Allah. Sata justru bersyukur diberi pengalaman, diberi kesempatan hidup lagi. Saya hanya sedih dengan korban yang belum terselamatkan dan menyayangkan penjarahan yang terjadi disana. Apalagi keinginan masyarakat untuk eksodus dari Palu sangat besar," pungaksnya.


(ALB)