Kekeringan Sumenep Lebih Parah Dibanding Tahun Lalu

Rahmatullah    •    Sabtu, 02 Sep 2017 20:14 WIB
kemarau dan kekeringan
Kekeringan Sumenep Lebih Parah Dibanding Tahun Lalu
Antrean jeriken warga untuk menerima air bersih dari BPBD Sumenep. Foto: MTVN/Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Jawa Timur, mencatat kekeringan yang terjadi lebih parah dibandingkan tahun lalu. Hingga saat ini, sudah ada 16 desa yang mengajukan pemintaan air besih.

Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi, menuturkan tahun lalu kekeringan tidak terlalu signifikan karena terpengaruh musim pancaroba. Hujan masih sering turun walau musim kemarau tiba.

Namun saat kemaru tahun ini melanda, debit air sumur lambat laun menyusut. Kekeringan banyak terjadi. “Dalam 12 bulan tahun lalu, kita tidak bisa memprediksi kapan akan turun hujan dan kekeringan. Bahkan lebih banyak turun hujannya. Itu mungkin dampak iklim global,” ujar Rahman, Sabtu 2 September 2017.

Sebagian besar dari 16 desa yang mengajukan permintaan air bersih sudah menerima kiriman air bersih. Sebagian desa lain menunggu giliran.

Rahman memprediksi kekeringan tahun ini akan terus meluas. Indikasinya ada desa yang sebelumnya tidak masuk peta rawan kekeringan, namun sudah meminta kiriman air bersih. Desa tersebut adalah Desa Langsar dan Tanah Merah di Kecamatan Saronggi.

“Karena musim kemarau diprediksi hingga awal Oktober, kemungkinan akan ada desa baru yang dilanda kekeringan,” ujar Rahman.

Namun, mantan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep itu menyayangkan kejadian di di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan. Di desa penghasil tembakau kualitas super ini, bantuan air bersih digunakan untuk pengairan.

Dia kecewa bantuan air tersebut tidak dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti memasak, minum dan mencuci pakaian. Dia berharap bantuan air dari BPBD seterusnya hanya digunakan untuk kebutuhan dasar tersebut.



 


(SUR)