Surat Terbuka untuk Presiden Terkait Patung Dewa di Tuban

Kesturi Haryunani    •    Rabu, 09 Aug 2017 16:36 WIB
toleransi beragama
Surat Terbuka untuk Presiden Terkait Patung Dewa di Tuban
Patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Swie Bio, Jombang, Jawa Tiimur, ditutup dengan kain putih -- ANT/Aguk Sudarmojo

Metrotvnews.com, Tuban: Keberadaan patung raksasa Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, masih terus diperdebatkan. Saat ini, pengelola kelenteng berinisiatif menutup patung tersebut dengan kain putih demi menjaga kondusifitas.

Patung yang dinobatkan sebagai patung dewa terbesar se-Asia Tenggara oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) ini diresmikan pada 17 Juli 2017 oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan. Belakangan, sejumlah kelompok menuntut patung setinggi 40 meter tersebut dirobohkan karena dianggap tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.

Selain pihak yang kontra, ada juga yang mendukung keberadaan patung Kwan Sing Tee Koen. Bahkan, kelompok yang menamakan diri Mahasiswa Buddhis Indonesia menulis surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, serta Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Berikut isi surat terbuka tersebut:

"Salam hormat kami atas nama Mahasiswa Buddhis Indonesia, semoga Bapak Presiden senantiasa dalam keadaan sehat dan tetap memiliki semangat untuk memperbaiki bangsa ini menjadi lebih baik lagi.

Kami juga mendoakan kepada Bapak Presiden dan keluarga semoga diberi ketabahan dalam menghadapi berbagai tantangan besar dalam menjaga bangsa Indonesia untuk bebas dari berbagai gangguan yang dapat mengancam `Pancasila` sebagai ideologi negara, terciptanya toleransi antar umat beragama, dan iklim pluralisme yang teduh di Indonesia.

Belakangan ini, muncul polemik dan desakan dari beberapa oknum ormas yang mengatasnamakan `Boemiputera Menggugat` yang tindak-tanduknya mengatasnamakan Pancasila. Namun, tindakannya sangat bertolak belakang dengan Pancasila.

Mereka menuntut agar patung Dewa Kwan Sing Tee Koen di Tuban dirobohkan. Alasan yang mendasari gerakan untuk merobohkan patung dewa tersebut sangat mendiskreditkan aliran Tri Dharma yang merupakan bagian dari Agama Buddha.

Mereka menganggap Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen bukanlah bagian dari ritual pemujaan suatu agama yang diakui di Indonesia dan tidak mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia yang sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kami ingin bertanya, apakah dengan berdirinya patung Dewa Kwan Sing Tee Koen dapat mengancam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika?

Mendirikan Patung adalah bentuk ekspresi keagamaan. Patung tersebut merupakan salah satu representatif dewa dari aliran Tri Dharma yang merupakan bagian dari Agama Buddha dan Agama Buddha pun statusnya saat ini diakui dan dilindungi di Indonesia.

Lokasi berdirinya patung tersebut juga berada pada area klenteng/vihara, bukan di tempat umum sehingga keberadaannya tidak mengganggu ketertiban umum. Bahkan, patung dewa tersebut dapat menjadi daya tarik wisata lokal kota Tuban bagi para wisatawan.

Lantas, siapakah yang sesungguhnya dirugikan dengan berdirinya patung tersebut? Kami rasa pihak-pihak yang ingin merobohkan patung dewa tersebutlah yang justru sangat mengancam eksistensi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, karena tuntutan merobohkan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen sangat merugikan umat Buddha di Indonesia, khususnya umat yang beraliran Tri Dharma.

Oknum-oknum antipatung tersebut juga menganggap bahwa karakter dan ukuran patung Dewa Kwan Sing Tee Koen mengindikasikan keangkuhan, kekuasaan, penindasan, dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia oleh bangsa asing (Tionghoa) di Boemi Pertiwi Persada Indonesia.

Kami rasa orang-orang tersebut sudah gila dan hilang akal sehatnya. Bagaimana mungkin patung yang merupakan benda mati dan tidak bisa bergerak mampu berkuasa, menindas bahkan menjajah Bangsa Indonesia?

Apakah Bangsa Indonesia dan Pancasila sebegitu lemahnya sehingga dapat dijajah oleh sebuah patung?

Justru ancaman untuk merobohkan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen tersebut yang sesungguhnya merupakan bentuk penjajahan dan penindasan terhadap ekspresi keagamaan sebuah agama di Indonesia, serta melanggar dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia, yaitu Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Bagi kami, saat ini patung Dewa Kwan Sing Tee Koen bukan hanya simbol dewa dari aliran Tri Dharma dan Agama Buddha saja. Namun, dalam konteks saat ini, patung Dewa Kwan Sing Tee Koen secara tidak langsung telah menjadi simbol dari toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Pak Presiden dan para menteri, kokohnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di bumi pertiwi saat ini sedang dipertaruhkan.

Untuk konteks saat ini, mungkin hanya patung Dewa Kwan Sing Tee Koen saja yang menjadi target untuk dirubuhkan.

Jika Patung Dewa Kwan Sing Tee Koen berhasil dirubuhkan, bukan tidak mungkin akan muncul aksi-aksi intoleran serupa yang dapat mengancam simbol-simbol agama lainnya, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, patung dewa di Bali, dan unsur-unsur budaya serta simbol agama lainnya di Indonesia.

Pak Presiden dan para menteri, kami sebagai Mahasiswa Buddhis tentunya ingin menjaga NKRI ini tetap utuh dibawah semangat PANCASILA.

Isu-isu sentimen terhadap ekspresi keagamaan dan kebudayaan suatu golongan harus ditiadakan, karena sikap intoleran dapat memecah belah persatuan Bangsa Indonesia. Persepsi liar dan sentimen SARA (Suku, Agama, Ras dan Golongan) dari segelintir oknum yang tidak memahami toleransi saja yang menyebabkan seolah-olah suatu karya budaya merupakan masalah.

Oleh karena itu, kami mendesak Bapak Joko Widodo selaku Presiden Indonesia dan menteri-menteri terkait untuk melindungi patung Dewa Kwan Sing Tee Koen dari ancaman oknum-oknum gagal paham tersebut yang menginginkan agar patung Dewa Kwan Sing Tee Koen segera dirubuhkan.

Jika pemerintah tidak bertindak responsif terhadap surat terbuka ini, maka kami menilai Bapak Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia tidak memiliki upaya untuk melindungi toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

Ttd,
Abhinyano - Ketua PC HIKMAHBUDHI Jakarta Timur
Wiryawan - Ketua PC HIKMAHBUDHI Jakarta Utara
Billy Gunawan - Ketua PC HIKMAHBUDHI Jakarta Barat
Appamadena Sampadetha!
Berjuanglah dengan Sungguh-sungguh!"



(NIN)