Monumen Peniwen: Kekejian KNIL Bantai Anggota Palang Merah

Aditya Mahatva Yodha    •    Kamis, 10 Nov 2016 11:57 WIB
hari pahlawan
Monumen Peniwen: Kekejian KNIL Bantai Anggota Palang Merah
Monumen Peniwen Affair 19 Februari 1949 di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kab Malang, Jatim. (Foto-foto: Aditya Mahatva Yodha)

Metrotvnews.com, Malang: Tak banyak petunjuk atau catatan sejarah mengenai Desa Peniwen di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tak saja di sejarah umum, tidak pula di buku sejarah sekolah.

Malah, warga Malang pun jarang yang menyadari keberadaan Monumen Peniwen Affair. Padahal, tempat ini merupakan satu dari dua monumen Palang Merah yang mendapat pengakuan secara internasional.

Terbukti saat Metrotvnews.com menyambangi areal ini pada, Kamis, 10 November. Suasana begitu hening, tak ada upacara tertentu meski hari ini merupakan Hari Pahlawan.

Peniwen adalah sebuah desa yang masuk dalam Kecamatan Kromengan. Di desa ini, terdapat makam bahagia, yaitu 10 makam anggota PMR yang tewas diserbu oleh tentara Tentara Hindia- Belanda (Koninklijke Nederlanch-Indische Leger/KNIL) pada Agresi Militer Belanda II tahun 1949.

10 makam itu begitu mencolok dengan nisan putih. Berjajar rapi di bawah Monumen Peniwen Affair, yang terletak di Jalan PMR Dusun Kertareja, Desa Peniwen. 

Di bawah nisan itu, bersemayam jasad anggota PMR. Yakni, Matsait, Slamet Ponidjo Inswihardjo, Soejono Inswihardjo, Soegianto, J.W Paindong, Wiyarno, Kodori, Sowan, Said, dan Soedono.

Menurut beberapa literatur, di Markas PMI Kabupaten Malang, para anggota PMR Peniwen yang meninggal tersebut dulunya bekerja di sebuah rumah pengobatan Panti Husodo. Saat ini panti berubah menjadi SD Negeri Peniwen.

"Karena dianggap menyembunyikan para pejuang, dan gerilyawan di Panti Husodo, anggota PMR dan beberapa masyarakat dihabisi dengan keji dan ditembaki membabi buta oleh tentara KNIL," ujar Sekretaris PMI Kabupaten Malang, Aprilijanto.


Makam anggota PMR yang dibantai KNIL saat agresi militer II 1949.

Salah seorang warga Peniwen yang masih keluarga dari anggota PMR yang meninggal, Susya Widyana Inswihardjo atau akrab disapa Yon, bercerita ada dua kakaknya yang ikut menjadi korban kebiadaban tentara KNIL.

“Saat itu, tanggal 19 Februari 1949 pukul dua siang. Dua kakak saya adalah anggota PMR yang bekerja di Panti Husodo mereka membantu para gerilya yang terluka serta warga yang sakit,” tutur Yon.

Saat sedang merawat pasien warga serta gerilyawan, kata Yon, rombongan tentara KNIL yang dipimpin Yohanes Patty mengobrak-abrik Panti Husodo.

Semua penghuni diminta keluar. "Termasuk kakak-kakak saya,” lanjut Yon.

Tentara KNIL bentukan Belanda juga merekrut warga pribumi. Mereka melancarkan agresi hingga ke desa dan menebar teror.

KNIL memperlakukan para anggota PMR serta warga yang sakit seperti binatang. Seluruh tangan mereka diikat dengan kabel dan dirangkai menjadi satu.

Dua di antara mereka adalah kakak Yon. Mereka adalah  
Slamet Ponidjo Inswihardjo dan Soejono Inswihardjo. "Mereka disuruh berlutut dengan posisi kepala di tanah sambil meletakkan tangan di kepala,” ungkap Yon.

Tentara KNIL pun mengobrak-abrik balai pengobatan milik PMR, merampas obat-obatan serta menghancurkan papan plang PMR.

Setelah puas merusak balai pengobatan, para KNIL memisahkan tawanan. Tahanan perempuan yang tak terikat kabel, dibawa menjauh dari tawanan pria. Tahanan wanita tidak diekseskusi, namun diperkosa oleh para KNIL.

Protes gereja

Seorang gerilyawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bernama Kasman, yang masuk dalam barisan yang hendak dieksekusi, berhasil melarikan diri.

Namun, dia sempat tertembak di perut dan pelipis. Dalam keadaan sekarat, Kasman ini berlari menuju kediaman Inswihardjo, ayah dari kedua PMR yang tewas dibantai KNIL.

”Kasman bilang ke ayah saya, dua anakmu ditembak mati sama Belanda, ditembaknya dari jarak dekat,” ungkap Yon, menirukan cerita Kasman kepada sang ayah, Inswihardjo.

Akibat peristiwa pembantaian oleh KNIL tersebut, memancing reaksi pihak Gereja Peniwen yang saat itu sudah berdiri di tengah desa.

Pemimpin Gereja saat itu DS Martodipuro berkirim surat protes dan keberatan atas pembantaian dan kekejian terhadap warga sipil serta PMR, kepada jaringan Gereja Jawa Timur. Lalu, surat itu langsung ditembuskan ke gereja tingkat nasional, serta dunia.


Jalan PMR diresmikan Ketua PMI Indonesia Jusuf Kalla.

Akhirnya, Indonesia mendapat dukungan Prancis, Swiss, Argentina, Jerman hingga Inggris. Negara-negara dunia menekan dan mendesak Belanda untuk menghentikan agresinya.

Pasalnya, Belanda disebut sudah melakukan kejahatan perang, karena membantai anggota Palang Merah.

"Setelah pihak Belanda mendapat desakan dari dunia internasional karena membunuh anggota PMR, agresi militer berhenti,” tutup Yon.

Demi mengenang peristiwa keji ini, monumen Peniwen Affair didirikan dalam kompleks makam. Pendirian diprakarsai Edi Slamet, yang saat itu menjabat Bupati Malang. 

Para Pahlawan PMR Peniwen, juga telah mendapat penghargaan dari The International Commitee Of the Red Cross (ICRC) atau Komite Palang Merah Internasional.

Pada 2010, saat Wakil Presiden Jusuf Kalla menjabat Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), meresmikan Jalan PMR di areal Monumen PMR Peniwen.


(SAN)