Warga Surabaya: Awas Ada CCTV

Syaikhul Hadi    •    Jumat, 27 Oct 2017 14:42 WIB
tilang elektronik
Warga Surabaya: Awas Ada CCTV
Suasana lalu lintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat 27 Oktober 2017, MTVN - Hadi

Metrotvnews.com, Surabaya: Awas ada CCTV. Demikian pesan yang disampaikan sebagian warga Surabaya, Jawa Timur, bila ada kerabat yang berkendara.

Sejak beberapa bulan lalu, pemerintah kota memasang kamera pemantau CCTV di sejumlah lokasi. Melalui kamera itu, Polrestabes Surabaya memantau kondisi lalu lintas di dalam kota, termasuk kelakuan pengendara.

Khozin, warga setempat, mengaku tak jarang kerabat mengingatkannya untuk berhati-hati saat berkendara. Tujuannya, agar Khozin tak terkena tilang.

"Awas ada CCTV. Artinya saya disuruh kerabat untuk berhati-hati kalau berkendara. Karena dipantau polisi," tutur Khozin kepada Metrotvnews.com, Surabaya, Jumat 27 Oktober 2017.

Khozin mengaku, sejak kamera CCTV dipasang, pengendara jadi lebih tertib. Laju kendaraan tak urakan lagi. 

"Saya juga tidak takut merasa tak aman lagi saat berkendara," lanjut Khozin.

Menurut Khozin, pemerintah perlu menyosialisasikan penertiban lalu lintas melalui Tilang by CCTV (TBC). Sebab, masih banyak warga yang tak tahu soal CCTV.

Tapi sejauh ini, lanjut Khozin, ia merasakan lalu lintas lebih rapi. Perilaku pengendara juga lebih teratur.

Kamera CCTV khusus tilang terkoneksi dengan Satlantas Polrestabes Surabaya. Kamera dipasang di Jalan Raya Dharmo, jalan di dekat Kebun Binatang Surabaya, dan frontage Achmad Yani.

Baca: Jumlah Kamera Pantau Pelanggar Lalu Lintas di Surabaya bakal Ditambah

"Kamera CCTV khusus tilang itu baru diprogramkan Agustus lalu, dan diresmikan awal September," terang Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Surabaya Robben Rico.

Kamera untuk sistem TBC menggunakan sistem analytic. Sistemnya bekerja secara otomatis untuk merekam pelanggar lalu lintas.

Kamera merekam empat jenis pelanggaran. Mulai dari menerobos lampu merah, melanggar garis marka, kendaraan pindah jalur, dan melawan arus.

"Keempat pelanggaran ini merupakan kesalahan fatal tertinggi yang dapat berakibat pada kecelakaan lalu lintas," ujar Robben.


(RRN)