Polda Bongkar Sindikat Uang Palsu di Jatim

Syaikhul Hadi    •    Selasa, 03 Oct 2017 19:41 WIB
upal
Polda Bongkar Sindikat Uang Palsu di Jatim
Barang bukti yang disita Polda Jatim. MTVN/ Hadi

Metrotvnews.com, Surabaya: Petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur Jatim membongkar peredaran uang palsu di Malang, Jawa Timur. Selain tersangka, polisi juga menyita uang palsu senilai Rp107,5 juta.

Wakil Direktur Reskrimum Polda Jatim, AKBP Teguh Yuswardhie mengungkapkan, penangkapan terhadap Chandra, 45, asal Dampit, Malang Jawa Timur berawal dari informasi masyarakat atas adanya peredaran uang palsu. Setelah dilakukan pengembangan, akhirnya petugas membekuk tersangka dirumahnya pada 3 Agustus 2017 lalu.

"Tersangka kita tangkap berikut barang buktinya berupa pecahan 50 ribuan, dan pecahan 100 ribuan dengan jumlah total Rp107,5 juta," ujar Teguh. di Mapolda Jatim, Selasa, 3 Oktober 2017.

Teguh merinci, dari jumlah total Rp107,5 juta tersebut, disita pecahan 50 ribuan sebanyak 11.720 lembar, dan pecahan 100 ribuan sebanyak 214 lembar. Dalam aksinya, tersangka mengaku bekerja seorang diri. Meski begitu, dirinya tak sepenuhnya percaya begitu saja terhadap tersangka.

"Semua keterangan tersangka masih kami dalami. Belajarnya dari mana, apakah sudah diedarkan atau belum, tetap akan kami lakukan pengembangan," terangnya.

Uang palsu tersebut, rencana akan diedarkan ke kawasan luar pulau Jawa, di antaranya Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Meski demikian, menurut pengakuan tersangka uang palsu belum diedarkan.

"Keterangan tersangka uang itu dibuat hanya tiga hari. Dan sama sekali belum diedarkan. Rencananya akan diedarkan ke pulau luar Jawa yakni NTB dan NTB. Dan sasarannya pombensin dan toko kelontong," tegasnya.

Antisipasi jelang Pilkada 

Terkait peredaran uang palsu, Teguh bilang tak menutup kemungkinan berkaitan dengan kontestasi jelang Pilkada. Namun, pihaknya masih belum menemukan bukti-bukti terkait itu.

"Masih kita dalami. Biasanya mendekati event demokrasi, Ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan itu. Ini yang ketahuan saja. Kemungkinan ada lagi dan masih kami dalami," lanjutnya.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam Pasal 36 UU Nomor 7 tahun 2011 dan pasal 244 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. 


(ALB)