Khofifah: 9% Pelajar Sudah Anti-Pancasila

Antara    •    Sabtu, 15 Jul 2017 17:18 WIB
pancasila
Khofifah: 9% Pelajar Sudah Anti-Pancasila
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa -- ANT/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Surabaya: Menteri Sosial sekaligus Ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah Surabaya Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, saat ini sembilan persen pelajar di Indonesia sudah anti-Pancasila.

"Tantangan saat ini tidak tambah ringan. Saat salat Isya di Masjid Falatehan, saya ketemu dua polisi yang jadi korban, `kamu thoghut kok salat di masjid? Saya anti-Pancasila, tapi kamu thoghut`. Perspektif keumatan yang harus diluruskan karena salat kok dikafirkan," kata Khofifah saat acara silaturahim dan halalbihalal Yayasan Khadijah di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu 15 Juli 2017.

Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu mengatakan, Khadijah adalah sekolah yang dicitakan menjadi pesantren kota untuk proses `tafaqquh fid din` (penegakan agama). "Sembilan persen pelajar sudah anti-Pancasila. Ini PR kita. Saya ketemu yang dideportasi dari Turki, yang anak-anak dan ibu-ibu dikirim Densus ke Kemensos. PR kita adalah tidak mudah mengkafirkan. Kita bersyukur ada NU yang ajarkan tawassuth, tawazun, iktidal, dan mabadi khoiro ummah. Itu PR agar orang tidak mudah berguru kepada 'gadget' yang tidak jelas sanad atau perawi. Karena kalau soal agama bisa berbahaya," tuturnya.

Sebagai ketua yayasan, Khofifah memberikan penguatan kepada para guru, memastikan para guru, entah itu kimia, biologi atau fisika harus membangun sinergitas di antara program-program yang punya penguatan keagamaan dengan program yang terkait dengan bidang studi. "Untuk itu, guru yang mengajar gravitasi, juga mengajarkan proses gravitasi itu dari Tuhan," katanya.

Khofifah menegaskan, saat ini penguatan agama di Khadijah sudah berjalan. Jadi, tidak perlu lagi mendiskusikan soal full day school.

Sementara itu, Habib Abdurrahman Al-Attas dalam ceramah halalbihalal menyampaikan, nabi sudah menggambarkan orang yang tahu agama tapi mudah kafirkan karena belajar agama tanpa guru. "Nabi Muhammad bangun yang pertama adalah masjid, bukan rumah. Artinya, ilmu agama itu penting," kata dia.

Dia mewanti-wanti untuk waspada dengan ilmu agama yang berasal dari gawai karena rujukan ilmiahnya tidak jelas, karena itu pendidikan agama merupakan hal yang penting. "Yang juga penting doakan umat untuk kawal akhlak umat agar mereka belajar Alquran tapi isi Alquran bisa masuk ke hatinya sehingga tidak hanya paham Alquran tapi tetap mudah mengkafirkan," ujarnya.


(NIN)