UNBK SMK di Jatim Siap 100 Persen

Kusbandono    •    Senin, 02 Apr 2018 08:09 WIB
ujian nasional
UNBK SMK di Jatim Siap 100 Persen
Ilustrasi. (MI/Arya Manggala)

Jember: Ujian nasional berbasis komputer (UNBK), tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur akan diikuti oleh 222.264 siswa dari 1.885 SMK, Senin 2 April 2018.

Panitia UN Jatim 2018 melalui sekretarisnya Hudiyono saat dikonfirmasi mengatakan, jumlah peserta UNBK meningkat dibandingkan tahun ajaran 2016/2017 yang hanya 1.779 lembaga dengan 199.079 siswa SMK.

"Semua persiapan sudah bagus. Tahun lalu Dinas Pendidikan Jatim juga sudah mendistribusikan 800 unit komputer untuk digunakan sebagai ujian. Tahun ini, kami kembali akan menambah 2000 unit komputer," kata Hudiyono, Minggu 1 April 2018.

Kota Surabaya memiliki jumlah peserta terbanyak, yakni 19.775 siswa dengan lembaga penyelenggara sebanyak 104 SMK.

Kabupaten Sidoarjo penyumbang kedua terbanyak, karena diikuti 13.552 siswa dengan 78 lembaga. Peserta terbanyak ke tiga Kabupaten Jember, dengan 12.796 siswa yang tersebar di 160 SMK.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Saiful Rachman mengatakan, walau tidak lagi menjadi syarat kelulusan, siswa diminta totalitas dalam mengikuti ujian supaya mendapat hasil yang maksimal. 

Hasil UN, kata dia, akan digunakan pemerintah untuk melihat capaian hasil belajar siswa. Selain itu, siswa masih membutuhkan nilai UN untuk berbagai kebutuhan.

"Misalnya untuk mendaftar ke perguruan tinggi maupun sekolah kedinasan. Seperti Akpol dan Akmil, keduanya masih menggunakan nilai UN," kata Saiful kepada Medcom.id saat dihubungi.

UN merupakan nilai otentik dari yang telah dikerjakan siswa. Sebab dari segi integritas, UN yang dilaksanakan di Jatim dipastikan terjaga. 

"Karena kita 100 persen menggunakan UNBK. Baik SMA, MA maupun SMK," tambah Saiful.

Seluruh sekolah penyelenggara dinilai sudah cukup matang mempersiapkan. Kendati sempat muncul kendala di awal sinkronisasi, pada H-2 UNBK. Tapi masalah dapat cepat teratasi.

"Awal-awal sinkronisasi server pusat sempat mengalami kendala tapi sekarang sudah lancar," tutur Saiful.

Untuk pengawasan, Saiful menuturkan tidak ada ketentuan wajib yang harus diikuti sekolah. Jatim sepakat tidak menggunakan pengawas di dalam kelas.

Pengawas hanya bertemu peserta ujian saat membagikan daftar absensi dan selanjutnya menunggu di ruang kontrol. Sementara proktor (orang yang bertanggung jawab mengendalikan server) dan teknisi bekerja di ruang peladen yang masih terhubung dengan siswa.

"Jika terjadi gangguan di tengah-tengah ujian berlangsung, proktor bisa langsung turun menemui siswa. Jadi suasana ruang ujian akan tenang," pungkas Saiful.


(LDS)