Inovasi Bidang Otomotif

Karya Mahasiswa UMM Lolos ke Ajang Dunia

Daviq Umar Al Faruq    •    Sabtu, 15 Sep 2018 14:39 WIB
inovasi
Karya Mahasiswa UMM Lolos ke Ajang Dunia
Haryo menunjukkan konsep Tyrender, alat penurun temperature akibat gesekan pada permukaan ban, Sabtu 15 September 2018. (Dok. Humas UMM)

Malang: Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Haryo Widya Darmawan menciptakan sebuah inovasi canggih di bidang otomotif. Alat tersebut bernama Tyrender.

Melalui alat ciptaannya tersebut, Haryo berhasil melangkah ke kompetisi inovasi internasional bertajuk Seoul Internastional Invention Fair (SIIF) di Seoul, Korea Selatan pada 6 hingga 9 Desember 2018 mendatang.

Acara ini diselenggarakan Korea Intellectual Property Organization (KIPO) dan Korea Invention Promotion Association (KIPA) yang bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA).

Haryo mengatakan latar belakang dibuatnya alat ini setelah melihat fenomena ban kendaraan, khususnya angkutan barang yang harus secara berkala diganti karena lambat laun mengalami pengikisan akibat pemakaian. 

"Kebanyakan usia ban angkutan barang hanya berkisar dua tahun, bahkan kurang. Padahal, harga masing-masing ban mencapai jutaan rupiah," katanya, Sabtu 15 September 2018.

Berangkat dari keprihatinan dari para sopir dan pengusaha alat transportasi karena ban kendaraan lekas terkikis, Haryo menciptakan Tyrender. Yakni sebuah alat penurun temperatur akibat gesekan pada permukaan ban. 

“Alat ini untuk menurunkan temperatur berlebih yang timbul akibat gesekan ban dengan permukaan jalan. Fungsi finalnya untuk memperpanjang usia pakai atau service life ban,” ujarnya.

Mahasiswa semester tujuh ini menjelaskan ada beberapa kondisi yang membuat ban mengalami pengikisan. Yakni permukaan jalan, kecepatan kendaraan dan beban yang diterima, serta suhu atau temperatur yang meningkat akibat gesekan ban.

Alat ini dirangkai dari tangki air, controller, pompa dan nozzle yang didesain sedemikian rupa. Selanjutnya alat ini secara otomatis akan menyemprotkan air ketika temperatur ban melebihi batas. Dengan demikian, usia pemakaian ban dapat lebih lama. 

“Alat ini nanti akan dipasang di bawah fender atau spakbor dan tepat di atas ban. Saat temperatur ban mencapai suhu tertentu yang berlebih, nozzle akan menyemprotkan air dengan sistem spray hingga menyeluruh,” jelasnya.

Setelah suhu kembali ke batas angka normal, maka alat ini akan berhenti menyemprotkan air secara otomatis. Contohnya, jika ban saat melaju kencang memiliki temperatur 40 derajat, alat ini akan secara otomatis mengembalikan suhu ban ke 35 derajat.

“Secara otomatis, spray akan mati jika suhu sudah kembali,” tuturnya.

Dengan alat ini, Haryo menjadi salah satu perwakilan Indonesia pada ajang bergengsi yang diikuti 30 negara di dunia tersebut. Meski berkompetisi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang profesi di seluruh dunia, Haryo tetap yakin dan optimistis.

“Ada berbagai macam kategori, seperti construction, electric, hingga mechanical controller. Saya ikut mechanical controller. Peserta kompetisinya tidak hanya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga dari tenaga profesional berbagai perusahaan ternama,” urainya .
 
Tahun lalu, pada ajang SIIF, Indonesia berhasil membawa pulang tiga medali emas, lima medali perak, dan enam medali perunggu. Haryo pun berharap keberangkatannya nanti dapat mempersembahkan hasil yang terbaik untuk universitas dan Indonesia.



(ALB)