Lokalisasi Dolly Ditutup, Karaoke Plus Marak

Amaluddin    •    Jumat, 27 Feb 2015 23:18 WIB
lokalisasi dolly
Lokalisasi Dolly Ditutup, Karaoke Plus Marak
Ilustrasi. (foto: ANTARA/Rudi Mulya)

Metrotvnews.com, Surabaya: Pasca penutupan lokalisasi Dolly, bukan berarti kota Surabaya bersih dari bisnis esek-esek. Karaoke berbau esek-esek, atau karaoke plus-plus, mulai marak di ibukota Jawa Timur itu.

Hal ini dibuktikan setelah anggota Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jawa Timur mengamankan tiga pengelola Doremi Karaoke di Jalan Ngagel Jaya Selatan, Surabaya. Mereka ditahan karena telah menjual 23 pekerja seks komersial (PSK) ke sejumlah pelanggannya.

Tiga tersangka yang diamankan polisi itu masing-masing sebagai mucikari berinisial Papi NY (20), asal Cirebon, Jawa Barat, pemilik Doremi Karaoke, ES (24), warga Surabaya serta Manajer Doremi Karaoke, SHD (29), warga Surabaya.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Awi Setiyono, mengatakan bahwa bisnis yang dijalankan oleh ketiga orang ini adalah dengan cara mendirikan tempat karaoke secara resmi dan mendapat izin dari Pemkot Surabaya.

"Tetapi meski izin usahanya resmi, para tersangka ini menyalahgunakan dengan menawarkan PSK kepada lelaki hidung belang yang menjadi tamu karaoke," ungkap dia, Jumat (27/2/2015).

Modusnya, lanjut Awi, tamu yang hendak karaoke ditawari PSK yang berkedok Purel (wanita penghibur) untuk menemani karaoke.

"Selain menemani berkaraoke, perempuan penghibur itu bisa dibooking out ke hotel, atas dasar kesepakatan antar keduanya, untuk berhubungan layaknya suami istri," jelasnya.

Sementara untuk tarif yang dibanderol para tersangka, sekitar Rp1,5 juta sekali booking. Dan untuk biaya kamar dipatok tarif sekitar Rp 35 ribu sampai 75 ribu. Untuk room VIP dikenakan tarif Rp 100 ribu.

"Kalau booking out, dikenakan tarif Rp1,5 juta per perempuan. Dan masih dihitung perjam," sambungnya.

Dari penangkapan ketiga tersangka tersebut, Polda Jatim juga berhasil mengamankan barang bukti berupa uang tunai senilai Rp 6,5 juta, beberapa bill boking dan daftar absen ke 23 perempuan pekerja.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ketiga tersangka dijerat pasal 296 KUHP dan 506 KUHP tentang menarik keuntungan dari perbuatan cabul, dengan ancaman pidana lima tahun penjara.


(SUR)