Kasus Filipina, KBIH Arafah Pasuruan Pasrah

Amaluddin    •    Jumat, 26 Aug 2016 18:03 WIB
haji 2016
Kasus Filipina, KBIH Arafah Pasuruan Pasrah
Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Arofah, Nurul Huda (baju putih), di kantornya di Jalan Dr Soetomo, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis, 25 Agustus 2016. (MTVN/Amal).

Metrotvnews.com, Surabaya: Sedikitnya 14 warga Jawa Timur menjadi bagian dari 177 calon haji asal Indonesia berpaspor Filipina. Para calon tamu Allah itu berangkat melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Arafah.

Pemilik KBIH Arafah, Nurul Huda, mengaku pasrah jika tempat usahanya ditutup. Pria yang akrab disapa Gus Huda itu pun mengakui apa yang dilakukannya telah melanggar hukum.

"Kalau memang harus ditutup saya pasrah, saya ikhlas. Saya minta maaf kepada keluarga, saya mohon maaf," kata Gus Huda, kepada Metrotvnews.com, Jumat (26/8/2016).

Huda tak banyak berkomentar saat ditanya kronologis 14 jemaah calon haji asal Jatim yang berangkat melalui KBIH Arafah. Berkali-kali Gus Huda ini hanya menunduk diam, meminta maaf kepada para keluarga korban. "Mohon maaf, sekali lagi saya mohon maaf, saya mohon maaf. Saya siap dan akan bertanggungjawab," jelasnya.

Kemarin, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, didampingi Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, bersama beberapa keluarga korban mendatangi kantor KBIH Arafah di Jalan Dr Soetomo, Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Kedatangan mereka untuk meminta penjelasan kepada Nurul Huda, selaku pemiliki KBIH Arafah.

Namun sayang, kedatangan Gus Ipul beserta keluarga korban sia-sia. Sebab, Nurul Huda menjelaskan beberapa kronologi yang cukup membingungkan dan terkesan berbelit. Akhirnya Gus Ipul memilih keluar dari rumah tersebut dan mendesak kepada Kemenag untuk menutup KBIH Arafah.

Jumlah jemaah calon haji asal Jawa Timur yang berangkat melalui Filipina total 14 orang. Sebanyak 12 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Pasuruan, dan dua sisanya berasal dari Sidoarjo. 

Mereka ditahan oleh Imigrasi Filipina bersama 163 WNI lainnya yang hendak berangkat ke Arab Saudi pada Jumat, 19 Agustus 2016. Sebab para pemilik paspor tak bisa berbahasa Tagalog (bahasa Filipina).


(SAN)