Rencana Pembangunan Bandara di Malang Tak Disetujui Pemerintah

Amaluddin    •    Kamis, 29 Sep 2016 19:35 WIB
bandara
Rencana Pembangunan Bandara di Malang Tak Disetujui Pemerintah
Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Foto: Metrotvnews.com/Amaluddin

Metrotvnews.com, Surabaya: Satu dari lima bandar udara yang diusulkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo di wilayahnya ditolak pemerintah pusat. Pembangunan Bandara Internasional Puroboyo di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, tidak disetujui pemerintah. Sementara empat bandara lainnya masih menunggu jawaban dari pemerintah pusat.

"Karena rencana di Malang tak dilirik, kita usulkan Bandara International baru Tulungagung menjadi pertimbangan gantikan Bandara di Malang," kata Soekarwo, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/9/2016).

Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu mengatakan, pembangunan Bandara International di Tulungagung menunggu keputusan Presiden Joko Widodo. Pakde Karwo belum mengetahui pasti alasan pemerintah pusat lebih melirik Tulungagung dibanding Malang. 

Menurut dia, rencana pembangunan Bandara di Puroboyo sebenaranya sudah mulai jalan setelah dirinya bertemu dengan Menteri Perhubungan saat itu Ignasius Jonan. Bahkan detal Enginering Design (DED) sudah diumumkan dan pembangunan akan dimulai pada 2017.

"Lahan di tempat tersebut sudah siap seluas 4.700 hektare milik TNI. Tapi soal pembangunan bandara ini kami serahkan ke Pak Presiden dan Pak Menhub (Budi Karya Sumadi)," kata dia.

Sedianya, mantan Sekda Provinsi Jawa Timur itu hendak membangun lima bandara baru di Jatim. Yakni, Bandara Purboyo Malang Selatan, Bandara Tulungagung, Bandara di Kepulauan Kangean, Bandara di Kepulauan Masalembu, dan Bandara Lamongan.

Ini dilakukan karena Bandara Internasional Juanda Surabaya overload.  Kapasitas Terminal I dan Terminal II Juanda hanya mampu menampung 12,5 juta orang penumpang per tahun. Kenyataannya, Juanda sekarang sudah menampung sebanyak 17 juta penumpang per tahun.

Selan itu, tujuan pembangunan bandara baru ini untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah selatan Jatim. Sebab, selama ini wialayah selatan Jatim cenderung terisolasi dari ruang udara. Sementara kebutuhan masyarakat akan transportasi udara cukup tinggi.


(TTD)