Sebelum Melakukan Bom Bunuh Diri FH Menangis

Annisa ayu artanti    •    Sabtu, 19 May 2018 10:04 WIB
Teror Bom di Surabaya
Sebelum Melakukan Bom Bunuh Diri FH Menangis
Ilustrasi--Polisi bersiaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur. Foto: Antara/M Risyal Hidayat

Surabaya:  Hari masih gelap ketika FH berusia 16 tahun bergegas melakukan Salat Subuh di Masjid dekat rumahnya di pinggiran Kota Rungkut, Surabaya. FH dikenal sebagai sosok yang cerdas dan ceria. 

Namun, Minggu, 13 Mei 2018 ada sesuatu yang berbeda dari FH. Tak ada senyum darinya, hari itu, FH hanya menangis. Lalu ayahnya, Dita Oepriarto mengelus kepalanya dan menepuk pundak sang anak, tetapi dia terus menangis.

Hery 46 tahun penjaga kompleks perumahaan yang di sebelahnya mendengar Dita berbisik kepada FH "Bersabar, tuluslah," kata Hery menirukan kata-kata Dita, seperti dikutip Channel News Asia, Sabtu 19 Mei 2018.

Tetapi anak itu tidak terhibur. Justru ia terus menangis. "Saya ingin bertanya kepada ayahnya apa masalahnya tetapi saya menghentikan diri saya, karena saya tidak ingin dilihat sebagai campur tangan dalam urusan orang lain," ucap Hery. 

Baca: Terduga Pelaku Terdiri dari Bapak, Ibu, dan 4 Anak

Ketika selesai berdoa, FH, ayahnya, dan kakak laki-lakinya, Yusuf Fadhil, 18, pulang. Saat itu pertama kalinya FH tidak senyum kepada Hery. FH kemudian naik motor bersama kakaknya, menuju Gereja Katolik Santa Maria. Ia duduk di bagian belakang.



Di pintu masuk gereja, seorang jemaah bernama Aloysius Bayu mencoba menghentikan mereka. Namun, ledakan keras tetap terjadi terjadi pada pukul 07.30 WIB. FH dan Yusuf serta Aloysius dan lima jemaah gereja lainnya tewas.

Lima menit kemudian, Dita mengendarai mobil yang berisi bom ke Gereja Pantekosta Center Surabaya. Pada pukul 07.35 WIB bom meledak.



Tak lama setelah itu, ibunya FH, Puji Kuswati bersama dua puterinya FS, 12, dan VR, 9, melakukan serangan bom di Gereja Kristen Indonesia Dipenogoro.

Dalam 10 menit, seluruh keluarga itu tewas. Insiden pengeboman bunuh diri di tiga gereja menewaskan 13 orang dan melukai 41 lainnya. "Firman Tidak Ingin Mati dengan Cara Bom Bunuh Diri," ucapnya.

Ketika Hery kembali ke rumahnya dan mendengar berita pengeboman tiga gereja itu, dia tercengang. Dia langsung berfikir dan mengerti mengapa FH menangis pada subuh tadi. 

"Saya rasa, saya percaya, dia tidak ingin melakukannya (mati sebagai pelaku bom bunuh diri). Ini tidak benar, untuk menyeret anak-anak," kata Hery lalu terdiam dan menundukan kepalanya.

"Aku merasa kehilangan," imbuh Hery lirih.


(YDH)