Tiga Kementerian Kampanyekan Bahaya Resistensi Antimikroba

Daviq Umar Al Faruq    •    Minggu, 18 Nov 2018 11:55 WIB
penyakit
Tiga Kementerian Kampanyekan Bahaya Resistensi Antimikroba
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Malang: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Pertanian (Kementan), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengampanyekan bahaya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).

Kampanye itu disampaikan bersama organisasi lainnya yaitu Food and Agriculture Organization (FAO), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan Indonesian One Health University Network (INDOHUN) di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Selain bahaya resistensi antimikroba, pertemuan yang merupakan rangkaian kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik se-dunia ini juga diadakan untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit infeksi baru (PIB).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, Syamsul Ma'arif mengatakan, resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada 2050 mendatang. Pada tahun itu, diperkirakan kematian mencapai 10 juta orang per tahun dan angka tertinggi terjadi di Asia.

”Karena itu, kita semua berkumpul disini. Mengajak untuk sama-sama memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru," kata Syamsul, Minggu, 18 November 2018.

Syamsul berharap kepada mahasiswa saat ini bisa menjadi agen perubahan untuk mencapai kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan yang optimal.

Sedangkan, perwakilan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dr Yulianto Santoso, mengaku sering menghadapi pasien yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia karena obat-obatan tidak lagi mempan membunuh kuman penyakit.

"Kalau tidak dikendalikan, 10 juta jiwa akan meninggal setiap tahun pada 2050. Itu berarti setiap satu menit ada 19 kematian akibat infeksi bakteri yang tidak bisa disembuhkan" jelas Dokter Spesialis Anak ini.

Dia menjelaskan perilaku petugas kesehatan yang mudah memberikan antibiotik, termasuk kemudahan masyarakat untuk membelinya dinilai sebagai pemicu terjadinya resistensi antimikroba.

"Kita pernah melakukan suvey yang hasilnya menyatakan dari tahun ke tahun penggunaan antibiotik untuk batuk pilek, dan diare tetap tinggi yaitu sekitar 60 persen. Ke puskesmas orang sakit karena batuk pilek, juga dikasih antibiotik," ujar Yulianto.

Sementara itu, perwakilan Kemenko PMK, drh Rama Fauzi menyebutkan, para pakar kesehatan hewan dunia telah mengelompokan pathogen (kuman berbahaya penyebab penyakit) dari 3 area.

Yaitu 1.415 pathogen pada manusia, 372 pathogen pada karnivora domestik (anjing, kucing dan sebagainya) serta 616 pathogen penyakit pada ternak.

"Dalam dekade terakhir memang wabah akibat virus menjadi sorotan dunia seperti virus flu H1N1, Ebola, Mers-CoV dan Zika. Namun ternyata perubahan karakter pathogen juga sedang terjadi pada bakteri, yang secara terus menerus bertambah kebal dari berbagai golongan antibiotik," ungkap Rama.


(DEN)