Narapidana Lapas Porong Kabur saat Asimilasi

Syaikhul Hadi    •    Senin, 25 Jun 2018 08:28 WIB
narapidanatahanan kabur
Narapidana Lapas Porong Kabur saat Asimilasi
ilustrasi Medcom.id

Sidoarjo: Seorang Narapidana lembaga pemasyarakatan klas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur kabur. Jidi bin Sanari, 51, asal Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, kabur saat menjalani masa asimilasi sebagai petugas kebersihan bagian luar (tamping), pada Sabtu 23 Juni 2018. 

Kepala lembaga pemasyarakatan klas I Surabaya di Porong Sidoarjo, Pargiono, membenarkan kaburnya narapidana kasus pembunuhan tersebut. 

"Pada waktu itu, si Narapidana ini (Jidi) dikeluarkan bersama 4 narapidana lainnya untuk menjalani masa asimilasi di bagian halaman luar. Yang bersangkutan sudah menjalani masa asimilasi ini sejak tiga bulanan yang lalu," ujar Pargiono saat dihubungi, Minggu, 24 Juni 2018 malam. 

Pargiono menuturkan, dalam menjalankan masa asimilasi, narapidana mulai bekerja sejak pukul 07.30 hingga pukul 12.00 WIB. Nah, saat hendak dimasukkan kembali ke ruang tahanan, petugas hanya melihat tiga orang narapidana. 

"Waktu dimasukkan lagi kok cuma tiga yang kembali. Yang satu kemana. Nah, dari situ akhirnya petugas keliling area lapas hingga komplek ternyata tetap enggak ada. Sedangkan pada saat yang bersamaan, sedang ramai pembesuk yang hendak pulang," jelasnya. 

Mengetahui kaburnya narapidana tersebut, pihaknya memerintahkan kepala pengamanan lembaga pemasyarakatan untuk membentuk tim pencarian.  Bahkan, petugas juga mencari ke alamat narapidana tersebut di kawasan Sampang, Madura. 

"Sampai sekarang belum ditemukan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa tertangkap lagi," tegasnya. 

Disinggung soal pantauan CCTV, pihaknya mengakui bahwa CCTV hanya terpasang di area dalam lapas dan halaman depan. 

"Kalau tempat kerjanya di luar enggak terpantau. Tapi kalau di dalam area lapas cctv nya lengkap. CCTV hanya terpasang sampai di teras saja. Sedangkan diluar itu sangat luas. Jadi enggak terpantau," terangnya. 

Dia menilai, adanya kejadian tersebut menjadi peringatan untuk petugas pengawal agar tidak lengah saat mengawasi narapidana yang sedang menjalani asimilasi. 

"Meskipun kelihatannya (narapidana) sudah baik saat menjalani masa asimilasi, tetap harus mendapat pengawalan baik face to face ataupun pengawalan melekat. Ke depan, pengawalan terhadap narapidana harus lebih baik lagi," tandasnya. 


(LDS)