Warga Bangil Pasuruan Minta Sungai Dikeruk, bukan Tinggikan Jalan

Syaikhul Hadi    •    Rabu, 10 Jan 2018 18:33 WIB
banjir
Warga Bangil Pasuruan Minta Sungai Dikeruk, bukan Tinggikan Jalan
Banjir merendam ribuan rumah di dua kecamatan di Pasuruan, Jumat, 22 Desember 2017, MI - Abdus Syukur

Pasuruan: Warga Pasuruan, Jawa Timur, meminta pemerintah mengeruk sungai yang membelah kawasan Bangil. Itu bertujuan mengantisipasi banjir kembali merendam ratusan rumah di Bangil

Iswahyudi, 43, warga Kalianyar, Kecamatan Bangil, mengaku bukan satu dua kali banjir merendam kawasan tersebut dalam setahun terakhir. Pada tiga bulan terakhir, hujan besar mengakibatkan perumahan banjir. Ketinggian banjir mencapai kurang lebih 1,5 meter.

"November banjir, Desember juga. Bahkan sampai sepekan yang lalu belum juga surut," ujar Iswahyudi kepada Medcom.id, Rabu, 10 Januari 2018.

Menurut Iswahyudi, air meluap dari dataran tinggi sekitar Pandaan dan Tretes. Sungai yang dangkal tak mampu menampung air. Sehingga air meluap dan membanjiri rumah.

"Kebetulan jarak rumah saya antara 200-300 meter dari bibir sungai Kedung larangan. Jadi ketika banjir datang pasti selalu tergenang," katanya.

Banjir, tak hanya membuat aktivitas warga lumpuh. Aktivitas pengguna jalan, perekonomian, dan kegiatan sekolah terganggu.

Bahkan, beberapa hari yang lalu, banjir melumpuhkan akses lalu lintas Surabaya - Banyuwangi, dan sebaliknya. Kawasan Kraton Pasuruan pun banjir.

"Aktivitas di Kraton memang sempat lumpuh. Artinya tidak bisa dilewati pengguna jalan. Karena airnya tinggi. Jadi harus lewat jalan tol atau Purwosari. Begitu juga perekonomian maupun aktifitas sekolah anak-anak terganggu," jelasnya.

Dia yang juga petani tambak mengaku berkali kali merugi akibat banjir. Karena saat banjir itu lah aktifitas dihentikan. Belum lagi ikan-ikannya yang berlarian ke tambak milik orang lain. Untuk aktifitas sekolah, pada Desember lalu, anaknya sempat libur hingga sepekan lantaran kondisi banjir meninggi.

"Ya, mau gimana lagi. Pasrah saja. Nunggu pemerintah memperbaiki itu. Anak-anak terpaksa libur, karena memang kondisinya yang tak memungkinkan. Apalagi kondisi di dalam rumah yang tergenang air. Otomatis mengganggu," terangnya.

Pokok persoalannya sama, yakni warga meminta pemerintah segera melakukan normalisasi sungai yang sudah bertahun-tahun belum dilakukan normalisasi. Sebelumnya, upaya itu dilakukan pemerintah dengan mengeruk sungai dengan alat seadanya. Namun, hal itu belum optimal.

"Selama ini pemerintah hanya memakai alat bego untuk mengeruk sungai. Sedangkan yang efektif itu menggunakan kapal. Sehingga tanah yang dikeruk pun banyak. Itu pernah dilakukan pada tahun 80 an. Hasilnya tidak pernah banjir lagi," tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah justru merevitalisasi jalan dengan cara ditinggikan. Padahal kondisi jalan belum rusak. Menurutnya jika peninggian jalan sebagai alternatif mencegah adanya banjir, tidak mungkin. Karena saat jalan ditinggikan secara otomatis banjir akan lebih parah menggenangi perumahan warga yang berada di dataran rendah.

"Oke jalan ditinggikan, tapi tidak menutup kemungkinan rumah warga yang ada dibawahnya jalan akan terdampak banjir. Saya rasa bukan solusi untuk peninggian jalan. Harus di normalisasi berskala besar," tegasnya. 


(RRN)