Ketidaktahuan dan Ketidakpedulian Pendorong Tingginya Gizi Buruk

Syaikhul Hadi    •    Kamis, 19 Oct 2017 21:07 WIB
kesehatan
Ketidaktahuan dan Ketidakpedulian Pendorong Tingginya Gizi Buruk
Ifa Siswati (lanan) dan Riani, dua kader Posyandu yang menjadi saksi ketidaktahuan dan ketidakpedulian orang tua ke anak dengan gizi buruk. Foto: MTVN/Syaikhul Hadi

Metrotvnews.com, Surabaya: Banyak hal yang dialami kader Posyandu untuk membantu warga sekitar dalam menangani kesehatan anak atau balita. Ketidaktahuan masyarakat dan kemiskinan menjadi faktor utama tingginya penderita gizi kurang maupun gizi buruk.

Seperti yang dialami salah satu kader posyandu di kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto, Riani. Profesi kader Posyandu sudah digelutinya selama 15 tahun.

Tak mudah, begitu katanya. Riani harus berhadapan dengan orang dari beragam latar belakang dan tingkat pendidikan. Apalagi tempatnya bertugas berada di kawasan masyarakat berekonomi menengah ke bawah.

"Susah-susah senang sih. Susahnya kalau bertemu dengan orang tua yang minim pengetahuan, meski sudah diberitahu tentang bahaya bagi kesehatan anak tetap saja enggak digubris. Sedangkan senangnya, bisa membantu sesama dalam hal mengedukasi maupun  menjaga kesehatan anak," ungkap Riani, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 19 Oktober 2017.

Ada beberapa cerita menarik yang disampaikan Riani saat membantu penanganan kesehatan anak. Kurang tanggapnya orang tua terhadap kondisi kesehatan anak, membuat sang anak jadi korban gizi buruk. Bahkan ketidakpedulian orang tua sang anak terjadi hingga beberapa bulan.

Saat itu anaknya sedang sakit panas. Orang tuanya sempat diingatkan sama kader agar anaknya segera dibawa ke Puskesmas. Balita yang sebelumnya terlihat normal itu tiba-tiba mengalami gizi buruk saat dilakukan penimbangan.

"Sudah kita sampaikan agar dibawa ke Puskesmas. Tapi orang tua nya hanya jawab iya, tapi enggak berangkat. Kalau enggak salah sampai 20 hari enggak dibawa juga ke puskesmas. Sampai-sampai anaknya itu terlihat kurus banget," ceritanya.

Setelah kondisinya makin parah, akhirnya dibawa ke Puskesmas. Namun, pihak puskesmas memintanya untuk segera dirujuk ke RS. Soewandi. Bahkan pihak puskesmas juga memberi sejumlah uang agar segera diobati. Namun orang tuanya tidak segera merujuk si anak.

"Akhirnya terpaksa kader posyandu dan pihak puskesmas yang membawa anak itu ke RS. Hasilnya, anak itu mengalami dehidrasi," tambahnya. Setelah dilakukan perawatan selama sebulan, anak tersebut kembali normal.

Ifa Siswati, Kader Posyandu Simolawang, juga memiliki cerita serupa soal gizi buruk. Kejadian itu terjadi setahun yang lalu. Saat itu, ada balita terkena thypus sejak lama dan sering keluar darah dari hidungnya.  Orang tua balita sudah berkali-kali diingatkan agar segera membawanya ke Puskesmas setempat. Namun tak digubris.

"Pernah saya lihat itu anak tersebut tidur di lantai. Saya bilang, ayo saya antar ke puskesmas kasihan anaknya. Dia (orang tua) tetap tidak mau, karena enggak ada yang jagain," jelasnya.

Ayah si balita juga tak membawanya ke puskesmas. Alasannya, ada sanak saudaranya yang datang dari Madura ke Surabaya. "Si balita itu tetap enggak dibawa ke puskesmas. Hingga satu hari setelahnya balita itu diketahui  meninggal," terangnya.


(SUR)