Pencurian 12 Ton Kabel Ancam Jaringan Data Batam-Singapura

Anwar Sadat Guna    •    Senin, 28 May 2018 19:50 WIB
pencurian
Pencurian 12 Ton Kabel Ancam Jaringan Data Batam-Singapura
Kepala Bakamla RI Laksdya Arie Soedewo meninjau barang bukti kabel fiber optik hasil curian delapan pelaku, di Pangkalan Zona Maritim Barat, Barelang, Kota Batam, Senin, 28 Mei 2018.

Batam: Aksi pencurian 3.200 meter kabel fiber optik bawah di perairan Tanjung Berakit dapat mengancam koneksi jaringan data dan suara (voice) Batam-Singapura. Sejauh ini belum ada komplain atau keluhan yang disampaikan Singapura terkait kasus ini. 

"Kami masih menunggu laporan dari Kemenkominfo apakah sudah ada pernyataan dari Singapura terkait kejadian ini atau belum. Sejauh ini belum, karena Kemenkominfo juga sedang bekerja untuk mendalami kasus ini," ujar Kepala Bakamla Laksamana Madya (Laksdya) Arie Soedewo di Pangkalan Zona Maritim Barat, Barelang, Kota Batam, Senin, 28 Mei 2018. 

Arie mengatakan, sejumlah pejabat dari Kemenkominfo akan datang ke Batam untuk mengetahui secara detil pencurian kabel bawah laut ini. Tim dari Kemenkominfo, kata Arie, akan mendalami sekaligus mengidentifikasi permasalahan dan dampak yang ditimbulkan akibat pencurian ini. 

"Secara teknis nanti disampaikan oleh pejabat Kemenkominfo," ujarnya. Sementara itu, perusahaan penyedia layanan internet (provider) juga menurunkan tim untuk menelusuri kasus pencurian 12 ton kabel fiber optik bawah laut tersebut. 

Bambang, perwakilan dari PT Triasmitra, selaku rekanan provider, mengatakan, tindak kejahatan yang dilakukan para tersangka dapat mengancam koneksi jaringan data yang menghubungkan Singapura-Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Kepri. 

"Aksi pencurian ini dapat mengancam koneksi jaringan data maupun suara (voice) dari Singapura ke berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk Batam. Untungnya, kita masih punya kabel back-up sehingga dampaknya tidak begitu terasa," ujar Bambang. 

Ia menuturkan, kabel yang dicuri para pelaku merupakan 
jenis kabel fiber single armor. Kabel ini berfungsi untuk jaringan data, voice, dan lainnya. Kabel tersebut terkoneksi ke Singapura. "Mengapa di Singapura, karena Singapura sebagai gateway untuk menghubungkan (koneksi) jaringan internet ke berbagai negara, termasuk Indonesia," kata Bambang. 

Dia menuturkan, belum dapat dirinci secara detil kerugian yang ditimbullan akibat kasus pencurian itu. Tetapi harga kabel fiber optik jenis tersebut, kata Bambang, seharga USD100 per meter. Jika dirupiahkan ditaksir sekitar Rp4,4 miliar. 

"Untuk lebih pastinya nanti tim dari Kemenkominfo yang bisa menghitung. Namun taksirannya miliaran rupiah," ujarnya. Diberitakan sebelumnya, Bakamla RI menangkap komplotan pencuri kabel fiber optik bawah laut di perairan Tanjung Berakit, Bintan, Provinsi Kepri. 

Dalam kasus itu, Bakamla RI menyita barang bukti 3.200 meter kabel fiber optik yang sudah dipotong menjadi 800 potong. Beratnya mencapai 12 ton. Delapan tersangka, terdiri dari nakhoda dan tujuh ABK diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. 



(ALB)