Cerita Atlet Paralayang Bertahan dari Gempa Palu

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 03 Oct 2018 18:45 WIB
Gempa Donggala
Cerita Atlet Paralayang Bertahan dari Gempa Palu
Viki Mahardika, salah satu atlet paralayang Jawa Timur selamat dari gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq.

Batu: Raut ceria terpancar dari wajah Viki Mahardika, salah satu atlet paralayang Jawa Timur selamat dari gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Remaja asal Kota Batu, Jawa Timur ini berhasil selamat dari gempa berkekuatan 7,4 skala richter tersebut.

Luka lecet akibat tertimbun reruntuhan bangunan masih terlihat di wajah dan sekujur tubuhnya. Saat terjadi gempa, Jumat, 28 September, Viki sedang berada di Hotel Roa Roa, Palu, bersama atlet paralayang lainnya.

Atlet kelahiran 18 tahun lalu ini mengaku sempat tertimbun selama sekitar lima jam sebelum akhirnya ditemukan oleh masyarakat.

"Gempa terjadi sekitar jam 5 sore dan saya diselamatkan sekitar jam 10 malam. Setelah itu, saya dibawa ke tenda pengungsian. Di sana saya banyak melihat mayat-mayat dan orang sedang dijahit tanpa dibius," kata Viki di kediamannya  Jalan Cemara Pinus, Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, Rabu, 3 Oktober 2018.

Viki menceritakan awalnya sekitar pukul 14.30 WITA, dia dan teman-temannya mengaku merasakan gempa. Dengan sekejap, dia pun langsung berlari menggunakan tangga darurat dari lantai tujuh ke lantai dasar.

"Saat gempa awal, kalau enggak salah kekuatannya 6,7 SR, kami turun ke lobby hotel. Saat itu belum ada reruntuhan. Sampai di lobby, saya dikasih air minum dan sempat duduk-duduk sambil bercanda bersama teman-teman. Setelah beberapa saat, kami pun kembali ke kamar," ujarnya sembari sesekali memegangi bekas luka di tubuhnya.

Dua jam kemudian, gempa maha dahsyat kembali datang. Viki pun lagi-lagi berlari dari lantai tujuh menuju lantai dasar.

Namun, saat dia baru sampai di lantai tiga, bangunan hotel delapan lantai itu roboh. Lulusan MAN 1 Kota Batu ini pun langsung terjerembap di dasar reruntuhan bangunan dengan kondisi gelap gulita tanpa cahaya.

"Jam lima itu saya sempat keluar hotel untuk ambil laundry. Setelah kembali ke kamar, selang lima menit terjadi gempa lagi. Saya lari lagi kebawah, semua menyelamatkan diri masing-masing," beber Viki.

Sebelum terjebak, Viki sempat melindungi kepalanya agar tidak terkena reruntuhan bangunan yang berjatuhan. Namun derasnya gempa tetap membuat sekujur tubuhnya terkubur bersama beton bangunan. Dia hanya bisa terbaring menyamping, tubuhnya tak bisa digerakkan. Hanya tangan kirinya yang bisa bergerak melewati rongga-rongga bangunan.

"Saat terjebak, beruntung di atas kepala saya ada besi palang, jadi batu-batu besar enggak bisa masuk, cuma batu-batu kecil saja. Telinga dan mulut saya berulang kali kena pasir dan debu, saya harus meludah berulangkali. Saat itu saya enggak pingsan sama sekali. Kondisi di sana gelap karena listrik mati total," terang Viki.

Saat terjebak, Viki mengaku mendengar banyak orang yang terjebak berteriak meminta tolong. Namun teriakan itu hanya bertahan selama lima menit saja, setelahnya hening. Remaja yang baru menekuni olah raga paralayang tiga tahun terakhir ini mengaku sengaja tidak ikut berteriak untuk menghemat energinya.

"Semua orang kompak teriak Allahuakbar saat awal terjebak. Saya awalnya hanya diam saja, saya baru teriak kalau memang ada suara langkah orang mendekat. Saya sempat dengar adzan dan ikut teriak adzan itu. Saya mencoba tenang, irit tenaga dan atur nafas. Mau nangis saya tahan karena saya harus tenang," kenang Viki.

Beruntung, setelah beberapa jam terjebak, Viki berhasil diselamatkan. Dia pun langsung dilarikan ke tenda pengungsian untuk mendapat perawatan, yakni diberi obat pereda nyeri. Keesokan harinya, Viki bersama korban selamat lainnya dibawa ke Makassar dan pada Minggu 30 September 2018, dia tiba di Malang.

Viki tiba di Malang bersama atlet paralayang yang juga selamat, Gigih Iman menggunakan Pesawat Hercules milik TNI AU. Selanjutnya, dia langsung mendapatkan perawatan intensif di RS Karsa Husada, Kota Batu.

Kini dia sudah bisa pulang dan bertemu dengan keluarganya. Sedikit demi sedikit dia mencoba menghilangkan trauma atas kejadian yang dialaminya.

"Trauma saya kalau sudah ketemu dan bercanda sama teman-teman itu jadi hilang, karena saya bisa ketawa-ketawa. Tapi kalau lagi sendirian itu kadang-kadang saya masih takut. Semoga teman-teman saya yang masih hilang sampai saat ini dapat segera ditemukan, terutama Mas Fahmi yang sekamar dengan saya di hotel," pungkas Viki.

Sebelumnya ada lima atlet paralayang Jawa Timur yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Hingga kini, tiga atlet telah berhasil ditemukan, dua di antaranya selamat sedangkan satu atlet meninggal dunia.

Kelima atlet tersebut yakni Viki Mahardika, Gigih Iman, Reza Kambey, Ardi Kurniawan, dan Serda Fahmi. Kelimanya adalah atlet dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jawa Timur yang mengikuti Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 di Palu.

Hingga saat ini, ketiga atlet yang telah ditemukan, yakni Viki Mahardika, Gigih Iman, dan Ardi Kurniawan. Viki dan Gigih ditemukan sejak Minggu 30 September 2018 dalam keadaan selamat, sedangkan Ardi ditemukan Selasa 2 Oktober 2018 dengan kondisi meninggal dunia.


(DEN)