Kasus Difteri Terbanyak Ditemukan di Pasuruan

Amaluddin    •    Rabu, 06 Dec 2017 17:18 WIB
klb difteri
Kasus Difteri Terbanyak Ditemukan di Pasuruan
Ilustrasi. BULAN IMUNISASI ANAK SEKOLAH: Petugas medis Puskesmas Ulee Kareng memberikan imunisasi pencegahan campak, difteri dan tetanus kepada pelajar pada progran Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama/16.

Surabaya: Sebanyak 46 kasus difteri ditemukan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Jumlah tersebut menjadikan Pasuruan sebagai wilayah dengan kasus difteri terbanyak di Jatim.

“Kabupaten Pasuruan terbanyak karena minimnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya imunisasi. Padahal Dinkes Jatim bersama Dinkes di daerah gencar makukan sosialisasi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kohar Hari Santoso, Rabu, 6 Desember 2017.

Selain itu, lanjut Kohar, pihaknya juga melakukan berbagai upaya untuk mencegah jumlah korban bertambah. Satu di antaranya penyelidikan epidemiologi ketika menemukan kasus baru difteri.

"Melalui penyelidikan, kami dapat mengetahui jumlah kasus, penyebarannya, dan faktor penyebab penularan. Hal-hal tersebut berkaitan dengan penetapan status kejadian luar biasa," ujarnya.

Baca: Kasus Difteri di Jatim Menurun di 2017

Dinkes Jatim juga menggelar program imunisasi secara menyeluruh. Hal tersebut penting untuk mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan kesehatan, khususnya dokter spesialis anak.

Dinkes pun mendistribusikan antidifteri serum (ADS). Fungsinya sebagai kekebalan terhadap penyakit ini. Petugas pun memperluas wilayah pemberian vaksin DPT Hib, DT, dan TD. Warga bisa mendapatkan vaksin itu di Posyandu dengan gratis. Vaksin-vaksin itu berfungsi sebagai melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian.

"Kita juga memfasilitasi pemeriksaan spesimen untuk menetapkan diagnosa ke laboratorium rujukan nasional BBLK Surabaya," kata Kohar.

Difteri merupakan infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Di Jawa Timur sepanjang 2017 ada sebanyak 318 kasus difteri, di antaranya 12 anak meninggal. Jumlah itu menurun dari tahun 2016, sebanyak 352 kasus dengan 7 meninggal.



(ALB)