45.018 Anak di Madiun bakal Divaksin Difteri

Antara    •    Kamis, 01 Feb 2018 14:22 WIB
klb difteri
45.018 Anak di Madiun bakal Divaksin Difteri
Seorang anak mendapatkan suntikan Td (Tetanus-difteri) di SD Islam Terpadu Malang, Jawa Timur - ANT/Ari Bowo Sucipto

Madiun: Sebanyak 45.018 anak di Kota Madiun akan divaksin difteri guna mencegah tertularnya penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut. Pemberian vaksin akan dilakukan serentak melalui gerakan 'Outbreak Respons Immunization' (ORI).

"Usia 1-19 tahun yang akan diimunisasi," kata Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Madiun Agung Sulistya Wardani, Kamis, 1 Februari 2018.

Dari data sebanyak 45.018 anak tersebut, 9.598 anak di antaranya berusia 1-5 tahun, 4.959 anak berusia 5-7 tahun, dan 30.461 anak berusia 7-19 tahun.

Mereka yang diimunisasi karena dinilai kekebalan tubuhnya masih lemah terhadap toksin difteri yang dibawa oleh bakteri difteri. Selain itu, pemberian vaksin difteri secara serentak ini juga menindaklanjuti Pemprov Jatim yang telah menyatakan wabah difteri sebagai KLB atau kejadian luar biasa di wilayah Madiun.

Sesuai rencana imunisasi serentak ini akan dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pada bulan Februari yang dimulai Senin 5 Februari mendatang, kemudian pada Juli, dan terakhir pada November atau Desember 2018.

"Imunisasi akan dilaksanakan di puskesmas-puskesmas, posyandu, klinik kesehatan atau pusat pelayanan kesehatan yang lain," kata dia.

Ia menjelaskan, untuk mengimunisasi 45.018 anak tersebut dibutuhkan 20.490 ampul vaksin, dengan masing-masing tahap sebanyak 6.830 ampul.

Dari 6.830 ampul tiap tahap, terbagi 2.400 ampul untuk jenis vaksin pentavalen yang diberikan pada anak usia 1-5 tahun, lalu 620 ampul untuk jenis DT yang akan disuntikkan pada anak usia 5-7 tahun, dan 3.810 ampul untuk jenis TD yang akan disuntikkan kepada anak usia 7-19 tahun.

Bagi warga di atas usia tersebut yang ingin kebal terhadap bakteri difteri juga bisa mendapatkan imunisasi tersebut, namun harus membeli sendiri karena tidak ditanggung pemerintah. Harganya sekitar Rp400 ribu untuk sekali dosis suntikan atau sekali imunisasi.

"Harganya mahal. Miliaran rupiah nilainya untuk kegiatan ORI. Karena itu harus dimanfaatkan betul oleh seluruh warga. Orang tua dan kepala sekolah diminta bekerja sama dengan mengerahkan anak dan siswa-siswanya untuk diimunisasi," katanya.

Ia menambahkan, penyakit difteri sangat mudah menular. Ada dua cara penularan penyakit ini, yakni melalui percikan ludah dan sentuhan. Karena itu, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di antaranya tidak meludah sembarangan, rajin cuci tangan, makan makanan bergizi, dan hidup sehat lainnya.


(ALB)