Pengungsi Syiah Sampang Disarankan Ikut Program Transmigrasi

Amaluddin    •    Jumat, 16 Sep 2016 15:17 WIB
transmigrasi
Pengungsi Syiah Sampang Disarankan Ikut Program Transmigrasi
Pengungsi Syiah Sampang, Madura, berada di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (27/9/2015). Foto: Antara/Umarul Faruq

Metrotvnews.com, Surabaya: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur mengusulkan kepada Pemprov Jatim untuk mengikutsertakan ratusan pengungsi Syiah Sampang, Madura, dalam program transmigrasi. Tujuannya agar mereka bisa hidup mandiri dan tidak selalu berharap bantuan dari pemerintah.

Anggota komisi bidang kesejahteraan rakyat (Kesra) DPRD Jatim, Moh. Eksan, mengatakan saat ini sebanyak 332 jiwa warga syiah tidak boleh pulang ke kampung halamannya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Dusun Gading Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang, Madura. 

Sehingga, pemerintah mengungsikan mereka di Rusun Jemundo, Kabupaten Sidoarjo, sejak 2012. Pemprov Jatim juga memberikan bantuan uang jaminan Rp700 ribu per jiwa per bulan.

"Untuk itu, kami mengusulkan supaya mereka ikut program transmigrasi supaya mereka bisa hidup mandiri di tempat baru, karena mereka belum memungkinkan kembali ke kampung halamannya," ujar anggota Komisi D DPRD Jatim itu, Jumat (16/9/2016).

Menurut Eksan, bantuan pemerintah kepada mereka dinilai cukup. Namun, bantuan pemerintah itu tidak membuat mereka mandiri. "Untuk solusi jangka panjang juga perlu dipikirkan mulai sekarang. Transmigrasi itu salah satu solusinya," kata dia.

Selain ikut transmigrasi, Eksan menyarankan supaya pengungsi Syiah diberikan pelatihan dan dimasukkan ke berbagai perusahaan supaya mereka memiliki pekerjaan tetap. 

"Kalau perlu mereka disalurkan menjadi penjaga perumahan atau pekerja rumah tangga di rumah-rumah pejabat di lingkungan Pemprov Jatim," sarannya.

"Mereka adalah warga Jatim, sehingga menjadi tanggung jawab pemerintah Jatim untuk menyejahterakannya," kata politisi asal NasDem ini.

Konflik SARA di Sampang, Madura, telah terjadi sejak 2004. Konflik ini berujung pada tindak kekerasan yang terus berulang. Puncaknya pada 26 Agustus 2012 terjadi perusakan terhadap 37 rumah pengikut Syiah. Akibatnya satu korban tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Sejak saat itu, sebanyak 332 pengikut Syiah tinggal di pengungsian. Mereka berasal dari dua dusun, yakni Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben; dan Dusun Gading Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang.




(UWA)